Tulisan Avissena
April 2017
S S R K J S M
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com

Mengapa Harus Kartini?

Oleh: Tiar Anwar Bachtiar
Mengapa harus Kartini? Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).
Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.
Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia? Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.
Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.
Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.
Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang ber inisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiranpikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fa -timah dari Aceh, klaim-klaim ke terbe lakang an kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.
Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.
Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.
Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus menda -pat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.
Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong tak dir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?***

BREXIT – sebuah cara pandang yang berbeda

Kata Brexit mendadak populer. Boleh jadi itu karena kata tersebut menawarkan banyak nuansa. Ia menawarkan cerita tentang ketidakpastian, kemunduran, kecemasan, tetapi ada juga tragedi dan horornya. Baiklah kita bahas.Sejatinya kata Brexit merujuk pada kepanjangan Britain Exit, bukan Brebes Exit. Tapi kini keduanya sudah jadi saudara. Kita semua tahu kata itu awalnya populer seiring dengan keluarnya Inggris Raya (Inggris, Irlandia Utara, Wales, dan Skotlandia) dari Uni Eropa (UE) sesuai dengan hasil referendum 23 Juni 2016. Kita juga sudah tahu, 52% warga Inggris memilih keluar dari UE. Mengapa mayoritas warga Inggris, yang sudah bergabung dengan UE sejak 1973, itu akhirnya memilih meninggalkan UE?

Penyokong utama keluarnya Inggris dari UE adalah orang-orang tua yang ingin pensiunnya tak diganggu ketidakpastian ekonomi UE. Selama ini, menurut media, mereka tak merasakan manfaat dari bergabungnya Inggris ke UE. Setidak-tidaknya kesejahteraan. Kalau yang tua mendukung Brexit, yang muda sebaliknya: melihat masa depan yang cerah jika Inggris Raya tetap bergabung dengan UE.

Orang-orang muda ini, yang melek teknologi informasi, sadar betul bahwa teknologi membuat dunia menyatu tanpa batas. Mempersoalkan batas-batas geografis kini tidak relevan lagi. Tapi Anda tahu kan, industrialisasi perekonomian sebuah negara telah mengakibatkan demand for children turun. Akibatnya jumlah kaum muda di negara-negara industri selalu mengerucut, kalah banyak dengan kaum tua yang tambah panjang umur berkat bioteknologi dan kemajuan ilmu kesehatan.

Bagi anak-anak muda Inggris Raya, kini saatnya berwirausaha dengan memanfaatkan sharing dan collaborative economy dalam kontinen yang lebih luas dan tak bersekat negara bangsa. Apalagi Inggris bukanlah negara yang kaya dengan sumber daya. Maka agar perekonomiannya tetap tumbuh, Inggris harus mengandalkan sumber daya dari berbagai belahan dunia lainnya (global resources). Bukan hanya sumber daya. Pasar Inggris juga sangat terbatas. Jumlah penduduk Inggris saat ini hanya sekitar 65 juta. Sementara jumlah penduduk UE lebih dari 500 juta.

Pasar yang luar biasa besar. Jadi, bagi orang-orang muda, masa depan Inggris ada di luar sana, di UE. Bukan di Inggris. Perubahan seperti inilah yang tidak dipahami oleh orang-orang tua yang dulunya hanya punya satu pilihan: jadi pegawai sampai pensiun. Maka orang-orang muda ini sangat menyesalkan keluarnya Inggris dari UE. Kata mereka, “Bagaimana mungkin nasib kita ditentukan oleh orang-orang tua yang usianya mungkin tinggal 5-10 tahun lagi?

Sementara kita yang masih akan hidup hingga puluhan tahun ke depan harus menanggung beban atas keputusan yang mereka ambil.” Hasil voting tersebut jelas menciptakan ketidakpastian baru baik bagi Inggris Raya, UE, dan dunia. Ketidakpastian itu juga melanda masa depan Liga Inggris. Kita tahu banyak pemain sepak bola dari negara-negara lain yang merumput di klub-klub Liga Inggris. Itu pula yang membuat Liga Inggris ditonton oleh jutaan pasang mata warga dunia.

Mereka ingin menyaksikan pemain dari negaranya yang bertanding di Liga Inggris. Apa jadinya kalau pemain-pemain asing tadi dipaksa hengkang dari Liga Inggris? Saya sendiri mungkin akan memilih berhenti menonton siaran langsungnya. Apa asyiknya menyaksikan Liga Inggris tanpa Dimitri Payet, Anthony Martial, Diego Costa atau Eden Hazard? Tapi kini keputusan sudah diambil. Kini Inggris sudah menyusul Yunani yang lebih dulu keluar dari UE atau Grexit. Perubahan sudah bergulir. Ketidakpastian semakin meningkat, terutama setelah langkah Inggris mungkin saja ditiru negara UE lainnya seperti Prancis (Frexit), Spanyol (Spexit), Jerman (Gexit).

Kemacetan Terparah 

Bukan hanya itu. Kata Brexit memang menyisakan beban kesulitan. Fengshuinya buruk. Persis seperti nama jalan di Bali yang dulu selalu bikin pusing banyak orang: Simpang Siur. Benar-benar mumet, macet, dan buat orang mudah naik pitam. Di Indonesia, kata Brexit adalah akronim dari Brebes Timur Exit. Kalau sudah pahit, mudik yang semestinya menjadi peristiwa gembira dan menyenangkan berubah menjadi ketidakpastian, juga horor dan tragedi.

Bayangkan, kemacetan kendaraan mengular ke belakang mencapai lebih dari 20 km! Banyak pemudik yang terpaksa menempuh jarak Jakarta- Brebes hingga lebih dari 25 jam. Betul-betul horor! Padahal, jika kondisinya normal, jarak sejauh 270 km tersebut mungkin bisa ditempuh hanya dalam waktu 4-5 jam. Kalau Rio Haryanto yang mengemudi mungkin tak sampai 1 jam. Saking macetnya, media-media asing menobatkan peristiwa di Brexit sebagai kemacetan terburuk di dunia.

Media Inggris Daily Mail memajang judul yang provokatif: “Apakah ini kemacetan terparah di dunia?” Selain horor, di Brexit juga terjadi tragedi. Selama kemacetan, sebanyak 17 orang tewas. Penyebabnya jelas pemudiknya tidak dalam kondisi prima. Ada di antaranya yang sakit jantung. Tapi terhambatnya upaya pertolongan tim medis juga ikut berperan. Jangan-jangan, tahu akan ada yang butuh bantuan saja juga tidak. Sepertinya ada yang tak beres bekerja di sini.

Lari Tupai 

Kita tentu sudah banyak mendengar keluh kesah selama mudik, terutamaakibatkemacetan. Ada beberapa yang menyebut pada ajang mudik selalu terjadi pemecahan rekor. Kalau beberapa tahun lalu waktu tempuh Jakarta-Yogyakarta masih bisa 20 jam, makin ke belakang makin molor.

Memanjang jadi 22 jam, lalu 25 jam, 31 jam, dan mudik kemarin menjadi yang terlama: 36 jam. Akankah rekor bakal pecah lagi tahun depan? Saya berharap tidak. Keluhan lainnya, kemacetannya yang berpindah-pindah. Kalau dulu di sepanjang jalur pantura, lalu bergeser ke ruas tol Jakarta-Cikampek, kini pindah lagi ke ruas tol Cipali. Apakah tahun depan bakal bergeser lagi?

Kalau yang ini memang agak sulit dihindari. Sebab selama masa mudik, jumlah kendaraannya yang serentak meninggalkan Jakarta setiap tahun tambah terus. Terakhir jadi 1,6 juta. Mengapa sih kita tak punya cara untuk menguranginya? Bukankah kita dibekali ilmu ekonomi untuk menata perilaku konsumsi? Apalagi kalau kita tak memberi insentif atau disinsentif agar pemudik berpindah memakai moda transportasi lain.

Yang dilontarkan selama ini justru insentif untuk memakai jalur darat pakai mobil. Mungkin kita memang lebih suka dengan Jepang yang laris manis penjualan automotifnya. Bahkan waktu mau dibuatkan kereta cepat buatan China, banyak juga yang mati-matian membela Jepang, bahkan mengatakan seakan-akan Jakarta-Bandung masih bisa ditempuh hanya dengan 2 jam. Mari kita lihat pernyataan para pejabat yang secara implisit memberi insentif agar penumpang yang mudik ke sekitar Jawa Tengah memakai mobil saja. Perhatikanlah.

“Kalau arus balik menimbulkan kemacetan lagi, baiknya tiket tol digratiskan.” “Terminal bandara baru jangan dulu diresmikan.” “Tiket kereta sudah habis.” “Jalur trans- Jawa dipastikan tinggal sebentar lagi.” Atau yang terakhir, “Jarak tempuh jalur darat ini hanya empat jam,” dan seterusnya. Begitulah Brexit. Kata yang mestinya dimaknai dengan jalan keluar, perubahan menuju ke arah yang lebih baik, justru meningkatkan ketidakpastian, berubah menjadi horor dan tragedi.

Setelah itu beberapa pejabat setingkat menteri hanya bisa tunjuk kesalahan di tangan orang lain, bukan menunjuk diri sendiri. Padahal tiap orang bisa saja punya kontribusi negatif karena telah mengirim sinyal agar pemudik bergerak dengan kendaraan darat lewat jalan tol. Lalu ketika macet, cuma tak berdaya sajakah? Padahal, kita ingin Brexit memberikan exit bagi permasalahan saat ini.

Exit yang memberikan tantangan baru. Bukan tantangan yang kelihatannya saja baru, tetapi sebetulnya ibarat tupai yang berlari di dalam kandangnya. Kelihatannya berubah, larinya kencang, tetapi sesungguhnya hanya berlari di tempat. Di situ-situ saja. Kalau mau maju, tentu bukan perubahan seperti itu yang kita inginkan.

Rhenald Kasali

Founder Rumah Perubahan

JANGAN TAKUT SENDIRIAN

Suatu ketika di salah satu universitas ternama di Jepang sedang berlangsung hari pertama materi kuliah Electrical Engineering. Kelas tersebut berisi 40 mahasiswa, 39 diantaranya berasal dari Jepang dan 1 sisanya berasal dari Indonesia. Uniknya seperti menjadi kewajiban berjamaah, ketika sang profesor masuk menjelaskan silabus kuliah 39 mahasiswa tersebut tertidur pulas sementara 1 sisanya memperhatikan dengan seksama. Panjang lebar menjelaskan namun hanya 1 yang memperhatikan membuat  sang profesor naik pitam. Seketika kegeraman sang profesor membuat dirinya menghentikan penjelasannya dan memilih keluar kelas kembali menuju ruangannya. (lebih…)

Duhai Rasulullah saw

Oleh: Imam Al-Ghazali
Diterjemahkan Oleh Ustadz Novel Bin Muhammad Alaydrus, Solo

Ketika Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dunia yang fana ini, alam pun bersedih. Di tengah kesedihan mereka, sembari menangis, Sayyidinâ ‘Umar berkata: (lebih…)

Surat Untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia

Kepada para pemimpin Indonesia masa depan
Di manapun Anda berada
Di dunia yang semakin global
Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk “Made in The World” seperti celana jeans yang saya pakai sekarang. Karena, (lebih…)

Islamic Valentine’s Day

oleh : Emha Ainun Nadjib

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan (lebih…)

ULASAN BUKU SELF DRIVING – RHENALD KASALI

selfDrivingAkhir-akhir  ini mulai banyak dijumpai orang-orang tua dari kelas menengah yang kerapkali terlalu memanjakan anak-anak mereka dengan dalih bahwa dulu hidup orang tua mereka amatlah susah dan mereka tidak ingin kehidupan yang dianggap susah itu berulang atau menurun kepada anak-anaknya. (lebih…)