Tulisan Avissena
September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com

BUNUH DIRI MASAL PERGURUAN TINGGI MENUJU PENDIDIKAN ASEMBLING

SUDARYONO

Kompas 29 Agustus 2017

Akhir-akhir ini di media sosial sedang hangat didiskusikan dan diperdebatkan perihal universities disruption yang dipicu artikel _Jim Clifton, ”Universities: Disruption is Coming”._

Isinya secara garis besar mempertanyakan dan mengkhawatirkan peran masa depan pendidikan tinggi dalam menyuplai tenaga kerja industri di dunia.

Pemicu ditulisnya artikel tersebut adalah *iklan Google dan Ernst & Young* yang akan menggaji siapa pun yang bisa bekerja dengannya *tanpa harus memiliki ijazah apa pun,* termasuk ijazah dari perguruan tinggi (PT).

Iklan dari Google dan Ernst & Young tersebut seperti halilintar di siang bolong.

Ia mengejutkan dan menyambar *kemapanan yang telah dinikmati oleh PT di seluruh dunia* dalam perannya sebagai *penyuplai tenaga ahli, hasil riset, dan pemikiran-pemikiran yang dibutuhkan dunia industri.*

Namun, peran penting PT saat ini seakan telah dinihilkan oleh Google dan Ernst & Young, yang sebentar lagi barangkali diikuti oleh perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang lain.

Lonceng kematian PT seakan telah didentangkan oleh kedua perusahaan raksasa tersebut, menyusul artikel yang ditulis oleh _Terry Eagleton, berjudul ”The Slow Death of the University” (2015)._

Artikel Eagleton memberikan gambaran bahwa PT sedang melakukan bunuh diri massal melalui pengabaian pada tugas utamanya, yakni ”pendidikan”, karena telah bergeser lebih mengutamakan ”riset dan publikasi”. Lebih menyedihkan lagi, tradisi *HUBUNGAN DOSEN dan MAHASISWA* yang seharusnya berbasis *”GURU dan SISWA telah bergeser menjadi “MANAGER dan PELANGGAN*

*Khusus di Indonesia, fenomena bunuh diri massal ini ditambahkan oleh keluhan bahwa *para dosen saat ini lebih mementingkan meng-updateLKD (laporan kinerja dosen) karena berkaitan dengan tunjangan kinerja dosen daripada meng-update materi kuliah yang diampunya*

Pertanyaan menarik untuk diajukan adalah apakah eksistensi pendidikan tinggi akan segera berakhir ataukah tetap akan ada tetapi arahnya akan berbelok tajam tidak mengikuti garis linier lagi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya perlu:

(1) melihat lagi ke belakang sejarah kaitan antara pengetahuan, sains, dan teknologi;

(2) tahap-tahap perkembangannya;

(3) esensi dan sifat dasar kaitan ketiganya dalam perspektif kekinian; dan

(4) pengaruhnya pada arah pendidikan tinggi kita di masa depan.

Sejak kelahirannya pada abad ke-17, sains modern telah melahirkan tradisi berpikir yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan, sains, dan teknologi. Pengetahuan adalah basis dibangunnya premis-premis atau dalil-dalil umum sains, yang untuk selanjutnya sains akan berperan sebagai ibu kandung dari kelahiran teknologi.

Pengetahuan tentang benda-benda di langit yang didasarkan pada pengamatan yang berulang, pada akhirnya telah melahirkan prinsip-prinsip serta dalil-dalil di bidang sains. Kemudian disusul oleh terciptanya peralatan-peralatan yang mampu digunakan untuk membuktikan dengan akurat hipotesis yang dibangun oleh abstraksi sains.

Pendek kata, keberadaan dan perilaku-perilaku alam merupakan sumber berpikir atau guru bagi terbangunnya pengetahuan manusia. Kelak di kemudian hari, pengetahuan tersebut dapat digeneralisasi dalam formula-formula yang dapat menuntun manusia untuk menciptakan alat-alat bantu yang dapat memudahkannya melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit.

Puncak dari tradisi berpikir yang mengikuti garis linier ini adalah masa yang disebut dalam sejarah sebagai revolusi industri, yang usianya sampai saat ini baru sekitar 200 tahun, tetapi pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa.

*Perkembangan selanjutnya*

Revolusi industri ternyata bukan saja hasil puncak dari perkembangan sains modern, melainkan juga awal terciptanya alam (buatan) baru. Tradisi cara berpikir manusia kemudian berubah dari linier jadi siklikal karena produk-produk teknologi yang dihasilkan manusia tidak saja hanya dilihat sebagai ”hilir” dari pengetahuan dan sains, tetapi juga sebagai ”hulu” pengetahuan untuk melahirkan sains dan produk-produk teknologi baru.

Pergeseran cara berpikir ini dapat kita kenali dari berubahnya cara berpikir yang semula disebut sebagai discovery menjadi innovation.

Cara berpikir ”inovasi” telah meremas pengetahuan, sains, dan teknologi ke dalam satu genggaman tangan untuk kemudian dibentuk jadi bentukan-bentukan baru yang lebih mudah dipahami, lebih canggih, lebih mudah untuk memudahkan manusia, dan tentu saja lebih memesona.

Namun, yang sangat mengejutkan, ternyata dalam waktu hanya sekitar 15 tahun terakhir ini cara berpikir manusia modern sudah bergeser dari ”inovasi” menjadi ”hiper-inovasi” atau tepatnya ”hiper-siklikal”. Artinya, inovasi tidak lagi sekadar dijalankan di atas ”produk tunggal” untuk menambah nilai kebaruan dari produk tersebut, tetapi inovasi dilakukan di atas ”banyak produk” (multiproduk) untuk dilipat jadi satu produk. Alhasil, ia bukan saja melahirkan nilai kebaruan pada produk lama, melainkan sekaligus melahirkan produk-produk baru atau benda-benda baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Cara berpikir seperti ini kemudian melahirkan panggung-panggung perlagaan di dunia industri untuk saling bunuh dan saling mengalahkan.

Akhirnya, kita banyak menyaksikan perusahaan-perusahaan raksasa dunia terjungkal tanpa membuat kesalahan manajemen maupun produksi hanya karena munculnya benda-benda industri baru yang mengambil teritori pasarnya lantaran para pelanggannya dengan sukarela meninggalkan produk-produknya karena dianggap kuno alias tidak gaul lagi. Dalam payung berpikir seperti itu (hiper-inovatif), baik produsen maupun konsumen hidup dalam perlagaan-perlagaan yang sangat ketat, sibuk, dan cepat karena ”kegaulan” produk-produk teknologi saat ini jadi berusia amat pendek.

*Cara berpikir asembling*

Untuk melahirkan benda-benda baru serta jasa-jasa baru tersebut di atas dalam payung berpikir ”hiper-inovasi”, sesungguhnya kita telah mereduksi cara berpikir kita dari discovery ke innovation lalu ke asembling. Cara berpikir yang terakhir ini adalah cara berpikir yang menggunakan ilmu gathuk (Jawa). Meng-gathuk-kan orang yang punya sepeda motor atau mobil dengan orang yang memerlukan jasa transportasi melalui IT. Meng-gathuk-kan orang yang perutnya lapar dengan pemilik produk makanan dengan pemilik sepeda motor yang mau disuruh dengan upah melalui IT. Dengan ”ilmu gathuk”, saat ini banyak orang bisa mendapatkan rezeki tanpa harus bekerja di kantor atau di pasar, dan juga banyak orang malas tetapi punya duit yang dimudahkan.

Saat ini, cara-cara berpikir dengan ”ilmu gathuk” telah tumbuh dengan pesat dan subur serta telah melahirkan karya-karya jasa ataupun produk benda-benda yang sangat nyata dan dibutuhkan oleh masyarakat. Ilmu semacam ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari PT. Cara berpikir seperti inilah barangkali salah satu yang dibaca dan ditangkap Google dan Ernst & Young untuk berani merekrut siapa pun tanpa ijazah apa pun untuk bekerja dengannya.

*Sistem pendidikan asembling*

Atas dasar kondisi seperti itulah barangkali Jim Clifton merasa gelisah dan khawatir akan masa depan eksistensi PT dalam perannya sebagai penyedia tenaga kerja industri. Keahlian ilmu gathuk seperti itu ternyata ”tak pernah” dan ”tak perlu” diajarkan PT. Ilmu seperti itu dapat dipelajari siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.

Kekhawatiran Jim Clifton barangkali ”sangat berguna” untuk mendefinisikan ulang peran pendidikan tinggi dalam perubahan-perubahan alam dan kehidupan manusia di masa depan. Paling tidak, ada dua arus utama pendidikan tinggi yang dapat ditawarkan kepada masyarakat.

*Pertama,* pendidikan tinggi yang diselenggarakan atas dasar semangat discovery.

Artinya, pendidikan tinggi semacam ini mengorientasikan kegiatannya untuk dapat meraih ”penemuan-penemuan” besar yang berguna bagi perubahan-perubahan kehidupan manusia di masa depan. Riset-risetnya dilakukan atas dasar ”kerja kolektif” untuk diarahkan pada ”penyelesaian masalah-masalah besar” dan ”penemuan-penemuan besar” sehingga PT semacam ini jumlahnya memang harus dibatasi, termasuk jumlah mahasiswanya juga dibatasi pada mereka yang memang memiliki kemampuan dasar luar biasa (melalui seleksi yang ketat). Untuk perguruan tinggi semacam ini, idealnya diselenggarakan atas basis subsidi, dalam arti mahasiswa tidak dipungut biaya alias gratis karena mereka kelak akan jadi pemandu perubahan kehidupan manusia. Setelah lulus mereka tidak dibiarkan mencari pekerjaannya sendiri, tetapi sudah dikaitkan dengan tugas-tugas besar yang harus dilakukan.

*Kedua,* pendidikan tinggi yang diselenggarakan atas semangat berpikir asembling, atau pendidikan yang diselenggarakan untuk melembagakan cara berpikir ”perakit”, sehingga tugas utamanya melahirkan sebanyak-banyaknya tenaga ahli perakit yang sangat dibutuhkan oleh industri.

Pendidikan seperti ini mungkin mirip pendidikan vokasi, tetapi bedanya terletak pada ”cara berpikir” yang luas, melintas disiplin, dan kompetensi yang dihasilkannya mampu melahirkan produk-produk baru, baik berupa barang maupun jasa. Mungkin pendidikan semacam ini tepat disebut ”pendidikan vokasi plus”.

Taiwan, Korea, dan China tampaknya telah memberi perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan semacam ini.

Dengan menyelenggarakan dua arus utama pendidikan tinggi semacam itu (discovery dan asembling), kekhawatiran atas kemungkinan bangkrutnya pendidikan tinggi tidak beralasan lagi. Selain eksistensi pendidikan tinggi tetap dapat dipertahankan, maka pendidikan tinggi dikembalikan lagi perannya sebagai pemandu atau penuntun peradaban manusia, bukannya sebagai pembebek (pengekor) apa saja yang telah dilakukan oleh dunia industri.

_Sudaryono, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada_

Iklan

Pesan Sidogiri untuk Pengaku Paling NKRI

Oleh M. Anwar Djaelani,

tinggal diwww.anwardjaelani.com

… .

Belakangan ini kita merasakan ada pihak yang merasa paling Indonesia. Mereka pasang aksi seolah-olah paling bisa menjaga persatuan. Mereka mencitrakan diri sebagai yang “Paling NKRI”. Maka, tepat sikap berikut ini. Ponpes Sidogiri: “Jangan Ajari Orang Pesantren Soal NKRI” (www.republika.co.id 14/05/2017).

.

*Nasihat Tepat*

Pondok Pesantren Sidogiri -di Pasuruan Jawa Timur- berusia hampir 300 tahun. Mereka menggelar puncak milad ke-280 pada 14/05/2017 dan dihadiri sekitar 15 ribu orang. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Haji Muhammad Zainul Majd, serta para wali santri termasuk yang menghadirinya.

.

Hal menarik terjadi saat Bendahara Umum Pesantren Sidogiri Achmad Sa’dulloh memberikan sambutan di acara itu. “Santri Sidogiri terlibat aktif saat melawan penjajahan Jepang dan Belanda serta saat masa cengkeraman komunis. Jangan pernah mengajari orang-orang pesantren tentang bagaimana hidup bernegara dan menjaga NKRI,” kata Achmad Sa’dulloh. Sebagai ilustrasi, para santri Pesantren Sidogiri akan selalu ingat perjuangan para leluhur yang tidak gentar dalam menghadapi penjajah. Selepas kemerdekaan, para santri kembali ke dunia pesantren, tanpa mengharapkan jabatan apapun dari negeri ini.

.

Lebih jauh, Achmad Sa’dulloh menyebutkan bahwa hal ini penting disampaikan terutama jika melihat kehidupan bangsa akhir-akhir ini yang diliputi kegaduhan. Terkait penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama, “Kaum muslimin yang protes dianggap pemecah-belah bangsa, tidak cinta kebinekaan. Kaum santri mencintai negeri ini, tetapi tidak buta, selagi tidak bertentangan dengan prinsip agama. Ketika negara bertentangan dengan agama, kami akan meletakkan agama di atas negara,” tegas Achmad Sa’dulloh.

.

Sementara, Pesantren Sidogiri dalam Aksi Bela Islam menyatakan sikap mengharamkan pemimpin non-muslim dan mendukung pemimpin muslim di wilayah mayoritas muslim. Kata Achmad Sa’dulloh, hal ini bukan karena kepentingan politik, tapi sebagai dakwah dan tanggung-jawab Pesantren Sidogiri terhadap umat. “Kalau ada orang bergerak dengan agama dicap intoleran, teroris, anti-kebinekaan, ini harus kita lawan. Jika tidak, maka lambat-laun orang Islam akan malu dengan keislamannya. Yang benar dianggap salah, dan yang baik dianggap buruk,” kata Achmad Sa’dulloh.

.

“Siapa” Pesantren Sidogiri itu? Pesantren Sidogiri dibabat oleh Sayyid dari Cirebon Jawa Barat, Sayyid Sulaiman. Beliau keturunan Rasulullah Saw dari marga Basyaiban. Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah perantau dari Negeri Wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman cucu Sunan Gunung Jati.

.

Terdapat dua versi tahun berdirinya Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam catatan Panca Warga pada 1963, bahwa Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29/10/1963. Sementara, di surat lain tahun 1971 yang ditandatangani KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun 1971 merupakan hari ulang tahun Pesantren Sidogiri yang ke-226. Artinya, Pesantren Sidogiri berdiri pada 1745. Di kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun Pesantren Sidogiri.

.

Sekali lagi, Pesantren Sidogiri telah berusia hampir tiga abad. Tentu, telah banyak kontribusi yang diberikannya kepada negeri ini. Pesantren ini telah melahirkan banyak ulama. Mereka, antara lain, Prof. Dr. Husein Aziz (Direktur Pascasarjana UIN Surabaya, Guru Besar Sastra Al-Qur’an), KH Miftahul Akhyar (Wakil Rais Am PBNU), KH Cholil Nafis (Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat), dan KH Abdurahman Navis (salah satu Ketua MUI Jatim). Artinya, memedulikan suara yang berasal dari Pesantren Sidogiri adalah sesuatu yang sangat positif.

.

Mencermati sikap orang-orang yang merasa “Paling NKRI” kita bersedih. Mereka seperti lupa kepada pihak-pihak yang turut melahirkan dan membesarkan NKRI. Untuk itu, ada baiknya kita baca ulang pendapat Bung Karno di soal peran ulama terhadap negeri ini.

.

Atas proklamasi kemerdekaan RI 17/08/1945, Bung Karno mengakui kontribusi yang sangat besar dari ulama, dengan mengatakan bahwa dirinya “Kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani.” Fragmen itu diterangkan sejarawan Prof. Ahmad Mansur Suyanegara di http://www.eramuslim.com 16/09/2007. Tentu, hal ini mudah kita mengerti karena kekuatan militer dari umat Islam saat itu luar biasa besar dan juga semangat jihadnya yang tinggi.

.

Adakah informasi menarik lain soal peran ulama? Pada 18/08/1945, yang merumuskan Pancasila itu tiga orang, “Yakni, KH Wahid Hasyim dari NU, Ki Bagus Hadi Kusumo dari Muhammadiyah, dan Kasman Singodimedjo juga dari Muhammadiyah. Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila itu sebagai ideologi, UUD 1945 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI tidak akan mampu, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula Bung Karno diangkat jadi presiden dan Bung Hatta sebagai wakil presiden. Jadi negara ini yang memberi kesempatan proklamasi seperti itu adalah ulama,” jelas Ahmad Mansur Suyanegara.

.

Memang, mengamati sikap orang-orang yang merasa “Paling NKRI” kita bersedih. “Sungguh lucu,” kata Asma Nadia (Tokoh Perubahan Republika 2010), 

“Menemukan segelintir anak bangsa yang merasa dirinya lebih Indonesia dari yang lain, lebih nasionalis dari yang lain, padahal peran mereka dalam kehidupan belum ada apa-apanya dibanding jejak gegap gempita deret pahlawan (Islam)”. Lebih jauh, “Bukankah,” -gugat penulis produktif yang rata-rata karyanya best seller ini,- “Islam justru erat dengan perjuangan, nasionalisme, kebinekaan, dan juga Pancasila?”(www.republika.co.id 13/05/2017). 

.

*Jujur, Jujurlah!*

Alhasil, mari menunduk. Ingat-ingatlah nasihat dari Pesantren Sidogiri! Jangan diterus-teruskan klaim sepihak yang tak berdasar sebagai yang “Paling NKRI”. Bersikaplah adil. Bersikaplah sebagai insan yang beradab, yang bercirikan bisa membedakan yang haq dengan yang bathil. []

Perlukah Negara Islam?

PADA Agustus 2010 saya memperoleh kiriman buku Ajhizah Ad Daulah Al Khilafah dari seorang aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Itulah buku pegangan resmi ormas yang mendakwahkan pendirian khilafah di dunia internasional. Termasuk di Indonesia yang dimotori HTI. Buku yang diterjemahkan dengan judul Struktur Negara Khilafah tersebut dikirimkan kepada saya sebagai respons mereka atas terbitnya buku karya saya yang berjudul Perlukah Negara Islam.Sebuah buku yang saya tulis ketika tinggal di Mesir antara 2010–2011. Isinya, di antaranya, membahas seberapa pentingkah mendirikan negara Islam, termasuk kekhilafahan sebagaimana didakwahkan Hizbut Tahrir itu. (lebih…)

Mengapa Harus Kartini?

Mengapa harus Kartini? Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV). (lebih…)

BREXIT – sebuah cara pandang yang berbeda

Kata Brexit mendadak populer. Boleh jadi itu karena kata tersebut menawarkan banyak nuansa. Ia menawarkan cerita tentang ketidakpastian, kemunduran, kecemasan, tetapi ada juga tragedi dan horornya. Baiklah kita bahas.Sejatinya kata Brexit merujuk pada kepanjangan Britain Exit, bukan Brebes Exit. Tapi kini keduanya sudah jadi saudara. Kita semua tahu kata itu awalnya populer seiring dengan keluarnya Inggris Raya (Inggris, Irlandia Utara, Wales, dan Skotlandia) dari Uni Eropa (UE) sesuai dengan hasil referendum 23 Juni 2016. Kita juga sudah tahu, 52% warga Inggris memilih keluar dari UE. Mengapa mayoritas warga Inggris, yang sudah bergabung dengan UE sejak 1973, itu akhirnya memilih meninggalkan UE?

Penyokong utama keluarnya Inggris dari UE adalah orang-orang tua yang ingin pensiunnya tak diganggu ketidakpastian ekonomi UE. Selama ini, menurut media, mereka tak merasakan manfaat dari bergabungnya Inggris ke UE. Setidak-tidaknya kesejahteraan. Kalau yang tua mendukung Brexit, yang muda sebaliknya: melihat masa depan yang cerah jika Inggris Raya tetap bergabung dengan UE.

Orang-orang muda ini, yang melek teknologi informasi, sadar betul bahwa teknologi membuat dunia menyatu tanpa batas. Mempersoalkan batas-batas geografis kini tidak relevan lagi. Tapi Anda tahu kan, industrialisasi perekonomian sebuah negara telah mengakibatkan demand for children turun. Akibatnya jumlah kaum muda di negara-negara industri selalu mengerucut, kalah banyak dengan kaum tua yang tambah panjang umur berkat bioteknologi dan kemajuan ilmu kesehatan.

Bagi anak-anak muda Inggris Raya, kini saatnya berwirausaha dengan memanfaatkan sharing dan collaborative economy dalam kontinen yang lebih luas dan tak bersekat negara bangsa. Apalagi Inggris bukanlah negara yang kaya dengan sumber daya. Maka agar perekonomiannya tetap tumbuh, Inggris harus mengandalkan sumber daya dari berbagai belahan dunia lainnya (global resources). Bukan hanya sumber daya. Pasar Inggris juga sangat terbatas. Jumlah penduduk Inggris saat ini hanya sekitar 65 juta. Sementara jumlah penduduk UE lebih dari 500 juta.

Pasar yang luar biasa besar. Jadi, bagi orang-orang muda, masa depan Inggris ada di luar sana, di UE. Bukan di Inggris. Perubahan seperti inilah yang tidak dipahami oleh orang-orang tua yang dulunya hanya punya satu pilihan: jadi pegawai sampai pensiun. Maka orang-orang muda ini sangat menyesalkan keluarnya Inggris dari UE. Kata mereka, “Bagaimana mungkin nasib kita ditentukan oleh orang-orang tua yang usianya mungkin tinggal 5-10 tahun lagi?

Sementara kita yang masih akan hidup hingga puluhan tahun ke depan harus menanggung beban atas keputusan yang mereka ambil.” Hasil voting tersebut jelas menciptakan ketidakpastian baru baik bagi Inggris Raya, UE, dan dunia. Ketidakpastian itu juga melanda masa depan Liga Inggris. Kita tahu banyak pemain sepak bola dari negara-negara lain yang merumput di klub-klub Liga Inggris. Itu pula yang membuat Liga Inggris ditonton oleh jutaan pasang mata warga dunia.

Mereka ingin menyaksikan pemain dari negaranya yang bertanding di Liga Inggris. Apa jadinya kalau pemain-pemain asing tadi dipaksa hengkang dari Liga Inggris? Saya sendiri mungkin akan memilih berhenti menonton siaran langsungnya. Apa asyiknya menyaksikan Liga Inggris tanpa Dimitri Payet, Anthony Martial, Diego Costa atau Eden Hazard? Tapi kini keputusan sudah diambil. Kini Inggris sudah menyusul Yunani yang lebih dulu keluar dari UE atau Grexit. Perubahan sudah bergulir. Ketidakpastian semakin meningkat, terutama setelah langkah Inggris mungkin saja ditiru negara UE lainnya seperti Prancis (Frexit), Spanyol (Spexit), Jerman (Gexit).

Kemacetan Terparah 

Bukan hanya itu. Kata Brexit memang menyisakan beban kesulitan. Fengshuinya buruk. Persis seperti nama jalan di Bali yang dulu selalu bikin pusing banyak orang: Simpang Siur. Benar-benar mumet, macet, dan buat orang mudah naik pitam. Di Indonesia, kata Brexit adalah akronim dari Brebes Timur Exit. Kalau sudah pahit, mudik yang semestinya menjadi peristiwa gembira dan menyenangkan berubah menjadi ketidakpastian, juga horor dan tragedi.

Bayangkan, kemacetan kendaraan mengular ke belakang mencapai lebih dari 20 km! Banyak pemudik yang terpaksa menempuh jarak Jakarta- Brebes hingga lebih dari 25 jam. Betul-betul horor! Padahal, jika kondisinya normal, jarak sejauh 270 km tersebut mungkin bisa ditempuh hanya dalam waktu 4-5 jam. Kalau Rio Haryanto yang mengemudi mungkin tak sampai 1 jam. Saking macetnya, media-media asing menobatkan peristiwa di Brexit sebagai kemacetan terburuk di dunia.

Media Inggris Daily Mail memajang judul yang provokatif: “Apakah ini kemacetan terparah di dunia?” Selain horor, di Brexit juga terjadi tragedi. Selama kemacetan, sebanyak 17 orang tewas. Penyebabnya jelas pemudiknya tidak dalam kondisi prima. Ada di antaranya yang sakit jantung. Tapi terhambatnya upaya pertolongan tim medis juga ikut berperan. Jangan-jangan, tahu akan ada yang butuh bantuan saja juga tidak. Sepertinya ada yang tak beres bekerja di sini.

Lari Tupai 

Kita tentu sudah banyak mendengar keluh kesah selama mudik, terutamaakibatkemacetan. Ada beberapa yang menyebut pada ajang mudik selalu terjadi pemecahan rekor. Kalau beberapa tahun lalu waktu tempuh Jakarta-Yogyakarta masih bisa 20 jam, makin ke belakang makin molor.

Memanjang jadi 22 jam, lalu 25 jam, 31 jam, dan mudik kemarin menjadi yang terlama: 36 jam. Akankah rekor bakal pecah lagi tahun depan? Saya berharap tidak. Keluhan lainnya, kemacetannya yang berpindah-pindah. Kalau dulu di sepanjang jalur pantura, lalu bergeser ke ruas tol Jakarta-Cikampek, kini pindah lagi ke ruas tol Cipali. Apakah tahun depan bakal bergeser lagi?

Kalau yang ini memang agak sulit dihindari. Sebab selama masa mudik, jumlah kendaraannya yang serentak meninggalkan Jakarta setiap tahun tambah terus. Terakhir jadi 1,6 juta. Mengapa sih kita tak punya cara untuk menguranginya? Bukankah kita dibekali ilmu ekonomi untuk menata perilaku konsumsi? Apalagi kalau kita tak memberi insentif atau disinsentif agar pemudik berpindah memakai moda transportasi lain.

Yang dilontarkan selama ini justru insentif untuk memakai jalur darat pakai mobil. Mungkin kita memang lebih suka dengan Jepang yang laris manis penjualan automotifnya. Bahkan waktu mau dibuatkan kereta cepat buatan China, banyak juga yang mati-matian membela Jepang, bahkan mengatakan seakan-akan Jakarta-Bandung masih bisa ditempuh hanya dengan 2 jam. Mari kita lihat pernyataan para pejabat yang secara implisit memberi insentif agar penumpang yang mudik ke sekitar Jawa Tengah memakai mobil saja. Perhatikanlah.

“Kalau arus balik menimbulkan kemacetan lagi, baiknya tiket tol digratiskan.” “Terminal bandara baru jangan dulu diresmikan.” “Tiket kereta sudah habis.” “Jalur trans- Jawa dipastikan tinggal sebentar lagi.” Atau yang terakhir, “Jarak tempuh jalur darat ini hanya empat jam,” dan seterusnya. Begitulah Brexit. Kata yang mestinya dimaknai dengan jalan keluar, perubahan menuju ke arah yang lebih baik, justru meningkatkan ketidakpastian, berubah menjadi horor dan tragedi.

Setelah itu beberapa pejabat setingkat menteri hanya bisa tunjuk kesalahan di tangan orang lain, bukan menunjuk diri sendiri. Padahal tiap orang bisa saja punya kontribusi negatif karena telah mengirim sinyal agar pemudik bergerak dengan kendaraan darat lewat jalan tol. Lalu ketika macet, cuma tak berdaya sajakah? Padahal, kita ingin Brexit memberikan exit bagi permasalahan saat ini.

Exit yang memberikan tantangan baru. Bukan tantangan yang kelihatannya saja baru, tetapi sebetulnya ibarat tupai yang berlari di dalam kandangnya. Kelihatannya berubah, larinya kencang, tetapi sesungguhnya hanya berlari di tempat. Di situ-situ saja. Kalau mau maju, tentu bukan perubahan seperti itu yang kita inginkan.

Rhenald Kasali

Founder Rumah Perubahan

JANGAN TAKUT SENDIRIAN

Suatu ketika di salah satu universitas ternama di Jepang sedang berlangsung hari pertama materi kuliah Electrical Engineering. Kelas tersebut berisi 40 mahasiswa, 39 diantaranya berasal dari Jepang dan 1 sisanya berasal dari Indonesia. Uniknya seperti menjadi kewajiban berjamaah, ketika sang profesor masuk menjelaskan silabus kuliah 39 mahasiswa tersebut tertidur pulas sementara 1 sisanya memperhatikan dengan seksama. Panjang lebar menjelaskan namun hanya 1 yang memperhatikan membuat  sang profesor naik pitam. Seketika kegeraman sang profesor membuat dirinya menghentikan penjelasannya dan memilih keluar kelas kembali menuju ruangannya. (lebih…)

Duhai Rasulullah saw

Oleh: Imam Al-Ghazali
Diterjemahkan Oleh Ustadz Novel Bin Muhammad Alaydrus, Solo

Ketika Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dunia yang fana ini, alam pun bersedih. Di tengah kesedihan mereka, sembari menangis, Sayyidinâ ‘Umar berkata: (lebih…)