Tulisan Avissena

Beranda » Opini » Pemuda-Mahasiswa; Sudahkah dirimu merdeka?

Pemuda-Mahasiswa; Sudahkah dirimu merdeka?

Surabaya, 10 November 1945 : “….Selama banteng- banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga…“ (Bung Tomo).

 Seperti itulah Bung Tomo memekikkan teriakan di hari bersejarah bagi kota Surabaya. Hari yang penuh dengan semburat merah oleh darah. Darah para pejuang yang mewarnai puncak perlawanan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah dan mengusirnya dari bumi Indonesia.

 Memang perjalanan para pahlawan itu berada dalam garis perjalanan antara hidup dan mati. Peristiwa demi peristiwa yang tentunya penuh darah merah selalu terjadi di masa ini. Mulai dari perobekan bendera di hotel Yamato, tewasnya AWS mallaby di Jembatan Merah, hingga pertempuran dahsyat tanggal 10 November 1945 yang melibatkan seluruh rakyat Surabaya dengan hanya bersenjatakan bambu runcing. Bayangkan bagaimana semangat mereka walaupun dengan senjata seadanya, tetapi para laskar perang ini tak gentar menghadapi senjata lawan yang jauh lebih canggih. Mereka tetap maju di garis depan dengan risiko yang tidak kecil.Perjuangan mereka yang tak kenal lelah dan takut akan selalu menjadi kenangan di hati seluruh rakyat Indonesia. Perjuangan mereka menuju kemerdekaan tak akan hilang ditelan zaman.


Setidaknya itulah itulah sejarah kita pada zaman dahulu, sejarah gemilang para pemuda, diawali dengan berdirinya organisasi penggagas kemerdekaan pertama kali yang digawangi pemuda yakni organisasi “Budi Utomo” pada tahun 1908 sampai pada saat sekarang terbentuk “KAMI” (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan gerakan mahasiswa 1998 yang masing-masing telah berperan dalam menggores tinta emas sejarah bangsa menuju orde baru dan reformasi.

 

Pemuda-pemuda yang telah menggores tinta emas sejarah bangsa ini menyadari bahwa pentingnya pemuda di gelanggang sejarah dari zaman dulu hingga sekarang. Mereka berpikiran kalau bukan pemuda-mahasiswa yang bergerak siapa lagi? Kalau bukan pemuda yang membawa perubahan-memerdekakan Indonesia siapa lagi? Kalangan pemudalah yang mendeasak Bung Karno untuk segera emproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Menunggu generasi tua akan terlalu lama mengingat Indonesia sudah terlalu lama terjajah. Pemuda-pemuda ini telah merdeka.

 “Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua seperti Iskak, Djodi, Dahjar, dan Ibnu Sutowo. Kita-lah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.”

 

Begitulah tulis Soe Hok Gie aktivis gerakan mahasiswa angkatan ’66 dalam catatan hariannya, meyakinkan pemuda bahwa merekalah generasi yang benar-benar merdeka yang akan memakmurkan Indonesia.

Begitulah kiranya, pemuda-mahasiswa adalah generasi merdeka. Fase menjadi pemuda adalah fase saat kekuatan fisik dan pikiran yang mencapai puncak tertinggi dan luar biasa dalam seluruh fase kehidupan manusia. Idealisme yang kuat, tinggi, netral dan bebas tanpa pengaruh dari manapun-murni-dan berjuang tanpa membawa kepentingan tertentu. Tidak gampang menyerah, blak-blakan-frontal. Yang berbicara-bergerak-bertindak, ketika yang lain diam. Yang senantiasa belajar tanpa mesti selalu diajar. Yang beraksi ketika yang lain sibuk dengan kepentingan sendiri. Begitulah pemuda seharusnya.

 

Namun selama beberapa dekade terakhir ini, apa yang sudah dilakukan pemuda Indonesia? Apa yang telah kamu lakukan untuk Indonesia? Prestasi dan karya apa yang sudah kamu torehkan dengan tinta emas sejarah jejak-rekam perjuangan bangsa? Saat setelah menjadi mahasiswa, sudah pernahkah kamu mengikuti upacara bendera? Pernahkah sekali saja melakukan aksi-paling tidak diskusi membahas situasi kekinian negeri ini sebagai persiapan menjadi pemimpin bangsa di masa depan?

 Para pemuda-mahasiswa, jadilah generasi yang merdeka, generasi yang terus berkarya, generasi yang akan memakmurkan Indonesia di masa mendatang. Janganlah kalian menjadi generasi pecundang dan budak, generasi yang “tidak bisa hidup” kalau tidak ada pesta, hura-hura dan berbagai “ritual” lain yang menghabiskan uang orang tua dan negara. Sekali lagi, JADILAH PEMUDA MERDEKA!!!

 

Datanglah wahai anak-anakku..

Sambutlah ulang tahunku yang sudah demikian dekat ini..

Sejahterakan aku..makmurkan aku..

Aku menunggumu wahai anak-anakku..

–begitulah kiranya suara Ibu Pertiwi saat ini—

 

VIVAT !!!

HIDUP MAHASISWA !!!

HIDUP RAKYAT INDONESIA !!!

 

 

 

S urabaya, 14 Agustus 2011

Menyongsong HUT NKRI ke-66

 

Moh. Yusuf Hasbi Avissena

NRP. 3110100128

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mei 2012
S S R K J S M
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: