Tulisan Avissena

Beranda » Liputan » Mudik Lebaran 2012

Mudik Lebaran 2012

Tweet @avicciena

Anda Pengunjung ke...

  • 9,046

mudikIndonesia adalah salah satu negara besar di dunia, pernyataan ini setidaknya dapat kita tinjau dari jumlah penduduknya. Jumlah penduduk Indonesia menempati peringkat terbesar No. 4 sedunia, setelah Amerika Serikat, China dan India, dengan populasi penduduknya sebesar 237.556.363 jiwa [2010] dengan tingkat pertumbuhan penduduk 1,49%.
Dengan jumlah penduduk yang sebesar ini maka dapat kita bayangkan seberapa besar keperluan dan kebutuhan masyarakat berikut infrastruktur transportasidan fasilitas lain yang harus dipenuhi oleh negara. Tidak ada satu alasan pun—termasuk besarnya jumlah penduduk—yang menyebabkan negara mengurangi porsinya untuk fasilitas, infrastruktur dan kesejahteraan rakyat.
Berbicara tentang Indonesia, berarti kita membicarakan tentang seluk beluk kultur budaya yang ada di dalamnya. Dan sudah merupakan kebiasaan kita Bangsa Indonesia—tidak hanya umat Islam—akan tetapi mayoritas masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menjalankan tradisi mudik lebaran pada saat Hari Raya Idul Fitri tiap tahunnya. Entah tradisi mudik lebaran ini mulai ada sejak tahun kapan, akan tetapi yang pasti mudik senantiasa dilakukan dalam tiap tahunnya dalam rangka pulang kampung bertemu dengan keluarga besar dan sanak saudara dirumah.
Secara semantik, istilah mudik dapat dianalisis sebagai bentuk lesapan aktif dari kata dasar udik yang berarti kampung atau desa, yang menurut Peter Salim makna mudik dalam Kamus Indonesia Kontemporer bermakna (1) pulang ke kampung halaman dan (2) berlayar atau pergi ke udik, pedalaman atau hulu sungai. Pada awalnya pemakaian kosa kata bahasa Indonesia berasal dari khazanah atau setting sosial masyarakat yang menggunakan jasa transportasi air atau sungai. Sehingga komunitas yang pulang ke kampung halaman dianalogikan kembali ke hulu alias udik. Namun berawal dari kosa kata inilah istilah mudik kerap digunakan untuk menyebut masyarakat kita yang melakukan kegiatan pulang ke kampung halaman tiap tahunnya.
Ketika mudik, menurut penelitian Profesor Mubyarto, telah terjadi gerakan atau arus dana dalam jumlah sangat besar dari kota menuju desa mengiringi arus manusia itu sendiri. Milyaran uang diperkirakan akan mengalir ke kota – kota di propinsi Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara dan kota lainnya.
Meskipun sesungguhnya di negeri zamrud khatulistiwa ini mencari uang tidak semudah membalik telapak tangan, namun semangat berlebaran di kampung telah menggeser berbagai persoalan ekonomi yang sering kali menjadi penghalang orang untuk melaksanakan kewajiban sosialnya, seperti silaturahmi dan berkumpul dengan kerabat dekat.
Selanjutnya, kita tidak akan banyak membahas kajian sosial tentang fenomena mudik ini mengingat memang penulis yang kurang ahli di bidang kajian sosial dan penalasan mengungkap fenomena yang lain yang masih berkaitan tentang mudik.
Mudik tahun 2012 kali ini. Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai manajemen angkutan lebaran tahun ini dan dua tahun sebelumnya dinilai stagnan, bahkan yang paling tidak ada inovasi khususnya mengenai kebijakan sepeda motor. Bisa kita amati dalam keseharian, untuk moda sepeda motor serasa dibiarkan dan begitu bebas melintas dalam sudut-sudut jalan tanpa ada peraturan tertentu yang mengatur ini.\Diperlukan tim khusus manajemen angkutan Lebaran yang secara langsung dikelola oleh seorang pemerintah dengan melibatkan setiap elemen dan kementerian yang terkait. Mudik merupakan pesta rakyat.
Berdasarkan data dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Selama 3 tahun ini terjadi stagnasi kebijakan transportasi kecuali di sektor kereta api yang memberlakukan aturan baru yaitu. Semua penumpang duduk. Di sektor darat paling tidak ada inovasi, untuk sektor udara dan laut, masalah koneksi angkutan lanjutan merupakan isu kritis yang perlu ditindak lanjuti.
Perlu diketahui bahwa penggunaan sepeda motor yang eksesif tanpa kebijakan nasional yang kondusif menjadi pemicu kecelakaan tertinggi. Dengan demikian apabila pemerintah memiliki sasaran kinerja pengurangan angka kecelakaan dan jumlah korban maka ada dua strategi pokok.
Ada dua saran dari penulis untuk segenap pihak yang terkait dalam kegiatan mudik tiap tahunnya yang mana—sekali lagi—kebijakan ini tidak akan pernah dapat berjalan jika tidak ada kerjasama. Pertama, yaitu pengurangan jumlah pemudik bermotor, dan kedua pengurangan jarak perjalanan yang menggunakan motor.
Dua strategi tersebut disertai dengan pengetatan implementasi undang-undang lalu lintas dan angkutan jalan mengenai tatacara penggunaan sepeda motor akan dapat meminimalisasi jumlah kecelakaan kendaraan.
Untuk strategi pertama, jelas sekali, upaya harus diarahkan memperbanyak kapasitas angkutan umum, baik kereta api (KA) maupun bus, sekurang-kurangnya 20%-30%. Dengan demikian kapasitas itu akan terisi dengan pengguna motor yang berpindah.
Strategi kedua, difokuskan pada inovasi teknologi yang mampu mengangkut sepeda motor melalui KA, bus dan truk, atau kapal laut dalam jumlah massal dan tidak seperti sekarang hanya kurang dari 2.000 kendaraan.
Karena agar kita dapat menerapkan kebijakan ini kita membutuhkan lintas kementerian dan pemerintahan daerah untuk mengatur angkutan Lebaran ini, dan diperlukan kebijakan politis, dan diperlukan adanya perubahan fundamental dalam kelembagaan penyelenggaraan bersama angkutan lebaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2013
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: