Tulisan Avissena

Beranda » Opini » 9 Desember; Peringatan Hari Anti Korupsi Seluruh Dunia

9 Desember; Peringatan Hari Anti Korupsi Seluruh Dunia

AWAS BAHAYA LATEN KORUPSI !
Anti-Korupsi-300x300Korupsi sekecil apa pun dapat berlanjut (baca: kebiasaan) sampai tua. Dari skala kecil se-lingkup mahasiswa hingga pejabat tinggi negara, korupsi menjadi topik sensitif yang mudah dipermasalahkan. Sensitif karena menyangkut banyak kepentingan. Mudah dipermasalahkan karena efek traumatis korupsi dari awal kepresidenan Indonesia berdampak luar biasa hingga 66 tahun Negara ini merdeka.
Korupsi sudah mendarah daging! Kata-kata tersebut tidak berlebihan, bahkan berdirinya KPK menaikkan harapan masyarakat terhadap pemerintahan yang lebih “bersih”. Akan tetapi kita melihat bahwa berbagai penanganan tindak pidana korupsi tidak menunjukkan hasil yang cukup signifikan. KETAMAKAN DAN HEDONISME
Memandang terus berlanjutnya korupsi dalam skala mencemaskan di kalangan para pejabat public, korupsi yang mereka lakukan tak lain karena kerakusan. Gaji dan berbagai insentif yang mereka terima sangat lebih dari cukup. Karena itu, mereka korupsi karena ketamakan belaka, bukan karena “kebutuhan”—yang juga tidak bisa dan tidak boleh ditoleransi karena setiap dan semua bentuk korupsi tidaklah dibenarkan.
Namun, korupsi karena ketamakan lebih-lebih lagi tidak bisa ditoleransi , apalagi dibiarkan, karena angkara murka dan ketamakan sangat merusak baik pribadi, masyarakat, maupun negara-bangsa.
HUKUMAN SOSIAL
Cara “konvensional”, khususnya hukuman kurungan. Kelihatannya tidak mampu mencegah pejabat public tertentu melakukan korupsi. Apalagi, ketika hubungan penjara yang dijatuhkan pengadilan seringkali relative ringan dan menjadi lebih ringan lagi dengan adanya remisi yang diberikan secara indiskriminatif.
Karena itu, perlu barbagai cara inkonvensional dalam usaha membuat jera pejabat public pelaku korupsi. Di antara hukuman tidak konvensional itu adalah hukuman mati, hukuman seumur hidup, penyitaan seluruh kekayaan, dan diwajibkan melakukan kerja social tertentu, seperti membersihkan toilet umum, dalam jangka waktu tertentu—kalau perlu, pakaian yang bersangkutan dilengkapi dengan tulisan bertuliskan “koruptor”.
Yang tak kurang penting adalah hukuman dan sanksi sosial semacam pengucilan dari lingkungan masyarakat, kini sudah waktunya masyarakat menghilangkan sikap permisif terhadap korupsi dan koruptor dan sebaliknya, memperkuat perlawanan serta sikap antikorupsi mulai dari lingkungan social paling kecil.
Di sinilah peran tokoh yang memiliki integritas dalam berbagai lembaga sosial dan ormas menjadi sangat penting untuk terus mengambil inisiatif dalam konsolidasi serta pemberdayaan masyarakat melawan korupsi.
HIDUP MAHASISWA !!!
HIDUP RAKYAT INDONESIA !!!
[press release aksi “9 Desember” Kementrian Dalam Negeri BE-LM FTSP 2011-2012]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2013
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: