Tulisan Avissena

Beranda » Opini » Sumpah Pemuda; Momentum Rekonstruksi Mindset Anti-Korupsi

Sumpah Pemuda; Momentum Rekonstruksi Mindset Anti-Korupsi

Tweet @avicciena

Anda Pengunjung ke...

  • 9,046

300px-Kongrespemuda2Sumpah pemuda 1928 telah menumbuhkan bibit keindonesiaan yang melampaui zamannya. Kenapa dapat dikatakan melampaui zamannya? Karena sumpah pemuda ini telah menampilkan terobosan yang luar biasa dengan diterimanya bahasa melayu sebagai bahasa pemersatu bangsa. Hal itu diusung oleh para pemuda dari berbagai daerah dan suku-suku yang memiliki bahasa sendiri-sendiri. Mereka bertahan dengan komitmen itu sampai 17 tahun sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Para pemuda tersebut menyepakati satu bahasa sebelum ada negara. Padahal, saat itu bangsa Indonesia memiliki lebih dari 250 bahasa. Generasi pemuda yang visioner ini telah berhasil dengan gemilang mempersatukan ratusan suku menjadi satu bangsa yang satu dan mempersiapkan era baru yang menegakkan kesejajaran.

Saat Indonesia merdeka, para pendiri bangsa juga meletakkan dasar demokrasi yang penting. Saat itu ada 138 lembaga aristokratik dan semuanya disamakan sebagai warisan budaya, bukan institusi politik. Para pemuda dan pendiri bangsa bisa melakukan itu karena mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kalau mereka apatis, mereka bisa saja hidup makmur dengan keluarganya masing-masing. Akan tetapi tidak, alih-alih mereka memilih berjuang bagi bangsanya.

Dewasa ini, pemuda seharusnya juga memperkuat diri dengan wawasan kebangsaan yang bersifat paripurna. Tidak saja mengacu dengan euforia nasionalisme masa lalu, namun juga harus dapat menerjemahkan euforianya dan mengembangkan nilai-nilai kebangsaan yang visioner untuk masa depan.

Semangat ini harus mampu diterjemahkan pemuda zaman sekarang dengan memerangi masalah serius yang sedang menggerogoti bangsa ini, yaitu korupsi. Pemuda, sebagai generasi ideal harus turut mengambil bagian dalam upaya memberantas korupsi dan mengembangkan tata cara berkehidupan yang penuh integritas yang kemudian dijadikan sebagai gerakan bersama yang bersih dan benar-benar anti terhadap korupsi.

Kenapa semangat ini harus diterjemahkan dalam upaya pemberantasan korupsi? Banyak para pengamat pemerintahan berpendapat bahwa korupsi di Indonesia sudah semakin serius dan menjadi-jadi. Korupsi sudah tidak lagi sekadar tindakan fisik atau lahiriah semata, yang setelah dilakukan oleh koruptor—karena sudah menyadari kesalahannya sendiri—akhirnya berhenti dari praktik korupsi. Namun, lebih berbahaya lagi, korupsi telah menjadi mindset atau paradigma berpikir bagi beberapa oknum pejabat di negeri ini, baik mulai dari pemerintah pusat maupun daerah sehingga mengakibatkan ketika seseorang oknum pejabat yang telah melakukan praktik korupsi—karena tidak diketahui oleh penegak hukum—dia tetap melakukan tindakan korupsinya dan tidak malah bertaubat, inilah yang saya sebut kemudian bahwa korupsi telah menjadi mindset.

Padahal jika kita analisis lebih dalam lagi asal muara terbentuknya mindset adalah kumpulan berbagai macam persepsi, respons dan pemahaman kita terhadap luar diri kita yang terakumulasi sejak kecil sampai sekarang, sehingga konsekuensi logis yang berlaku berikutnya adalah ada sesuatu yang salah dalam proses pendidikan pribadi diri kita—termasuk oknum-oknum pejabat juga—sehingga karena kesalahan proses pendidikan tersebut kita atau oknum pejabat sekarang dapat dengan mudahnya melakukan tindak pidana korupsi.

Berbicara tentang pendidikan yang salah satu peranannya adalah membentuk kepribadian dan mindset,solusi untuk sedikit demi sedikit mengikis budaya korupsi yang telah ter-mindset-kan di negeri ini juga harus berkutat seputar tindakan dan aksi nyata yang muaranya adalah rekonstruksi mindset.

Rekonstruksi atau pembangunan kembali mindset dapat dilaksanakan melalui upaya penanaman dan gerakan riil yang mendukung ter‘bumi’kannya nilai-nilai luhur anti korupsi yang mungkin bagi kebanyakan orang, kepribadian jujur adalah pribadi ‘langit’ yang cenderung diolok-olok dan dicemooh oleh orang sekitar (ingat kasus pelajar SD Surabaya yang jujur dalam UAN namun malah diasingkan oleh masyarakat se-kampungnya).

Gerakan-gerakan nyata yang mengarah kepada rekonstruksi mindset antikorupasi inilah yang seyogyanya dapat diambil peranannya oleh para pemuda yang telah mampu menerjemahkan konsep semangat sumpah pemuda melalui tindakan nyata yang lebih visioner dan mengarah kearah masa depan bangsa ini. bagaimanapun format gerakan rekonstruksi mindsetnya, dapat diyakini bahwa masih banyak pemuda—karena idealismenya yang tinggi—yang memiliki integritas untuk secara kaffah benar-benar menyatakan perang terhadap korupsi.

Sebagai contoh, jika pemuda-pemuda ini adalah segolongan mahasiswa, maka sebagai mahasiswa dapat digagas ‘Gerakan Anti Titip Absen’ (Ga’ T.A.) yang mengandung unsur esensial turunan dari konsep anti korupsi. Kalau mungkin belum dapat terlalu besar, gerakan ini dapat diawali dengan diterapkan melalui satu kelas terlebih dahulu, lalu setelah dirasa sapat ber-‘ekspansi’, gerakan ini dapat disebarkan melalui kelas-kelas lain dan nantinya dapat deperbesar melaui antar angkatan, antar jurusan dan bahkan bisa jadi satu kampus dapat dengan konsisten menjalankan gerakan ini. Dan mungkin, gerakan-gerakan bersama yang lain dapat disusulkan dalam berbagai format yang kreatif dan berbeda dalam setiap momennya. Dan yang tak boleh lupa, diharapkan tiap insitusi pendidikan yang merasa mempunyai tanggung jawab terhadap masa depan bangsa ini dapat menerapkan gerakan ini dalam setiap lini dan sektornya masing-masing.

Disisi lain sebagai pemuda pula, selain sapat berperan dalam gerakan rekonstuksi mindset, peran pemuda dan lebih tepatnya adalah mahasiswa, tentu saja tidak bisa hanya mengandalkan kesadaran oknum pejabat public semata. pemuda perlu bekerja sama untuk mengawasi agar birokrasi pemerintah dan DPR tidak berkongkalikong untuk melakukan korupsi. Demikian juga dengan pemerintah daerah serta seluruh aparaturnya, perlu dilakukan pengawasan secara terus menerus melalui berbagai format yang berbeda oleh para mahasiswa agar budaya korupsi dapat segera diakhiri.

Berharap agar para pemuda tidak hanya terlarut dalam euforia sejarah emasnya semata, yakni Sumpah Pemuda. Namun setelah terkandung dalam diri semangat dan euforia, euforia ini harus terjewantahkan dalam aksi nyata.

Selamat Hari Sumpah Pemuda !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2013
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: