Tulisan Avissena

Beranda » Gagasan » Aku dan Mimpiku (Part 2)

Aku dan Mimpiku (Part 2)

Bermimpi untuk bangsa merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa

Sebagai mahasiswa yang telah dijelaskan diatas merupakan sekelompok golongan yang senantiasa peduli terhadap lingkungan sekitarnya, sudah seyogyanya mahasiswa mencoba menuliskan mimpi-mimpi untuk masa depan bangsanya. Hal ini dilakukan secara sadar sebagai “balas budi” atas apa yang telah diberikan bangsanya kepada dirinya karena telah diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi dan mendapatkan predikat mahasiswa.

Menuliskan mimpi untuk bangsa bukan merupakan suatu hal yang rumit. Kita hanya perlu mengetahui perbedaan antara menulis mimpi untuk diri sendiri dengan menuliskan mimpi untuk orang sekitar kita terlebih bangsa kita. Menuliskan mimpi berawal dari cita-cita dan harapan terhadap masa depan bangsa. Dari cita-cita dan harapan yang sangat besar itu lalu kita wujudkan melalui berbagai pencapaian yang harus kita capai dalam beberapa periode waktu tertentu misalkan dalam dua atau lima tahun. Sehingga dalam 2 atau 5 tahun tersebut target yang kita tetapkan harus dapat tercapai.

Selain itu, kita juga perlu memperhatikan bagaimana harapan para pemimpin pendahulu bangsa kita tentang bagaimana cita-cita bangsa kita kedepan dan mau kemana bangsa ini dibawa. Sebagai contoh bahwa nanti pada tahun 2015 kita akan menghadapi Asean Economic Community, lalu pada tahun 2045 hingga tahun 2050 diramalkan bahwasanya Indonesia akan menjadi bangsa yang maju dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi sejajar dengan pertumbuhan ekonomi 7 negara lainnya di dunia. Selain itu, dengan mengetahui ramalan kondisi bangsa kita pada masa depan kita juga tidak boleh melupakan bagaimana cita-cita bangsa seperti yang tercantum dalam alenia-4 pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” dan berangkat dari sinilah cita-cita atau mimpi setiap mahasiswa dituliskan.

Namun yang perlu diperhatikan, setelah kita mengetahui bagaimana kiat-kiat menuliskan mimpi untuk masa depan bangsa dengan berbagai ketentuan diatas, seyogyanya kita tidak perlu risau dan merasa terbatasi dengan berbagai “ketentuan” tersebut diatas. Selain memperhatikan “ketentuan” diatas, kita juga harus dapat berpikir bebas, kita harus dapat berpikir kreatif tanpa terbatasi atau terbebani suatu apapun akan mimpi-mimpi kita. Karena jika menulis mimpi saja sudah dibatasi? Bagaimana nanti kita bisa berkreasi?

Setelah mimpi, yang diperlukan berikutnya adalah aksi

Aksi disini bukan berarti turun ke jalan, berorasi dan menyuarakan tuntutan kepada pemerintah atau perusahaan. Aksi disini bermakna eksekusi atau tindakan. Tindakan yang digunakan untuk menggapai setiap hal yang kita inginkan. Karena apa? Bermimpi hanyalah akan menjadi mimpi dan angan jika tidak ada usaha yang dilakukan. Jadi bertindak setelah bermimpi adalah suatu kewajiban.

Tidak perlu berpikir rumit dan terlalu muluk, pernah tahu jargonnya merk sepatu nike? Yang berbunyi “Just do it!” atau dalam bahasa Indonesia berarti “lakukan aja bro!”. Disinilah cara dasar tentang bagaimana kita hendak beraksi mewujudkan mimpi. Tidak perlu susah-susah bagaimana mewujudkannya namun cukup dengan lakukan aja. Iya, lakukan saja.

Terinspirasi dari kisah Nabi Musa as. saat dikejar-kejar oleh Raja Fir’aun dan rombongan pasukannya sehingga sampailah Nabi Musa beserta umatnya di pinggir laut merah. Kemudian dengan bermodalkan keyakinan dan kepasrahan sepenuhnya kepada Allah swt disertai inisiatif tindakan untuk memukulkan tongkatnya ke laut, maka seketika itu pula wahyu itu turun dan laut yang tidak dapat dilewati tanpa menggunakan alat penyeberangan itu menjadi terbelah dan selamatlah rombongan Nabi Musa as beserta rombonganya dengan melewati laut tersebut sementara fir’aun tenggelam bersama pasukannya.

Sekali lagi kita melihat bahwa yang merupakan modal utama itu adalah mimpi dan keyakinan yang amat kuat dalam diri sehingga menjadikan diri kita cenderung untuk selalu memikirkannya ditambah dengan sikap untuk berusaha tanpa berpikir panjang dan berusaha sekeras mungkin agar mimpi-mimpi kita dapat terwujud.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Oktober 2013
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: