Tulisan Avissena

Beranda » Demonstrasi » Manifesto Keluarga Besar ITS untuk Indonesia

Manifesto Keluarga Besar ITS untuk Indonesia

        Sepuluh Nopember identik dengan perlawanan arek-arek Suroboyo dalam upaya mempertahankan kedaulatan bangsa terhadap kekejaman kaum kolonialis yang ingin merebut kembali kemerdekaan yang sudah digenggam tangan rakyat Indonesia. Maka semangat dan nilai historis ini harusnya dimaknai oleh generasi penerus dalam menjadikan bangsa ini semakin makmur, kuat dan mandiri sesuai cita-cita negara ini terbentuk.

         Banyak hal yang sudah tidak sejalan mulai dari degradasi kepemimpinan nasional, hilangnya semangat dalam mempertahankan kedaulatan bangsa, hingga instrumen-instrumen hukum yang dimanfaatkan untuk kepentingan yang menciderai cita-cita bangsa.

     Keluarga Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang lahir dan tumbuh besar dengan semangat Sepuluh Nopember berpandangan bahwa perlu pembenahan dalam berbagai aspek pengelolaan dan berjalannya negara, diantaranya :

Ekonomi

            Ekonomi kerakyatan yang menjadi konsep kesejahteraan masyarakat Indonesia tergerus oleh model-model raksasa neo liberalis-kapitalis yang membunuh habis rakyat kecil. Ketika negara-negara lain mulai mengadakan proteksi terhadap potensi/kekuatan ekonomi dalam negeri, malahan Indonesia membuka gerbang seluas-luasnya produk/potensi luar negeri untuk membanjiri Indonesia dan mematikan potensi lokal.

            Koperasi dan UKM harus digarap lebih serius oleh pemerintah karena ini tulang punggung rakyat. Dan kebijakan-kebijakan yang neo liberalis kapitalis harus dihapuskan.

Kebudayaan

            Terbukanya kran globalisasi membentuk mentalitas dan karakter kepribadian bangsa Indonesia yang mengekor pada budaya asing. K-Pop adalah salah satu contoh bukti konkrit betapa rapuhya kebudayaan nasional kita dimana generasi muda lebih bangga meniru joget ala Gangnam dibanding melestarikan Tari Jaipong, tari pendet, tari lilin dan berbagai tari hasil budaya nusantara lainnya.

        Penanaman nilai-nilai kebudayaan nasional sudah seharusnya dilebur dalam kebijakan pendidikan nasional untuk memproteksi diri demi jati diri bang sayang lebih beradab. Ini juga berlaku bagi pimpinan-pimpinan nasional yang harus berlaku dan kepribadian bangsa Indonesia.

Energi

            Sektor energi selama ini menjadi objek bancakan luar negeri. Bahkan banyak kebijakan yang menghalangi pengusaan sektor ini oleh bangsa sendiri. Blok Mahakam dan Siak harus absolut dikelola oleh anak bangsa dalam hal ini Pertamina. Selain itu, sektor energi, pertambangan dan potensi besar lainnya harus didorong untuk dikelola oleh anak bangsa demi kemakmuran bangsa tentunya dengan kebijakan dan instrumen undang-undangyang pro dalam negeri.

Perpolitikan Nasional

            Partai politik yang seharusnya menjadi penguat demokrasi telah salah arah dan kehilangan kepercayaan dari rakyat karena perilaku pragmatis, korup dan mengutamakan kepentingan golongan. Partai politik harus berbenah dengan menghilangkan paradigma demokrasi instan karena disinilah letak parameter keberpihakan kepada  rakyat akan terlihat, tidak menjadi alat bagi sebagian golongan saja.

Hukum dan Perundangan

             Saat ini para penguasa dengan sadar telah membelokkan arah pembangunan bangsa yang tidak sesuai dengan falsafah Pancasila. Semua kaidah kapitalisme, aturan neoliberalisme dan perjanjian internasional (WTO, AFTA) disusupkan ke dalam undang-undang. Amandemen UUD 45 dilakukan dibawah tekanan lembaga keuangan internasional seperti IMF. Sehingga elite nasional hanya menjadi makelar yang tak bisa berbuat banyak.

Tidak ada kata lain selain mengembalikan UUD Amandemen  ke UUD 45 dan falsafah pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, dimana keberpihakan murni ditangan rakyat.

Moral Kepemimpinan Nasional

            Permasalahan mendasar yang dialami bangsa ini adalah bersumber pada krisis kepemimpinan nasional yang terindikasi dari berbagai praktik korupsi yang terjadi di berbagai lembaga. Sehingga bukan lagi trias pilitica namun lebih tepat dikatakan sebagai trias corruptica. Semangat kepahlawanan dan rela berkorban yang diteladani oleh para pendahulu sudah tidak lagi menjadi referensi utama dalam membangun bangsa. Hal ini menunjukkan rendahnya kualitas SDM para pemimpin bangsa, nilai-nilia integritas terus memudar seiring tingginya jabatan yang sedang diemban. Hingga elite politik identik dengan kejahatan korupsi.

            Penanaman terhadap nilai-nilai luhur bangsa, kultur dan budaya nusantara serta nilai-nilai religius yang disatukan kedalam sebuah filosofi kehidupan dapat menjadikan kepemimpinan nasional yang lebih bermoraldan beretika.

Sistem Demokrasi

            Reformasi memberikan dampak pada masyarakat berupa kebebasan yang kebablasan, baik itu dalam beropini maupun dalam bertindak. Sehingga norma-norma yang berlaku tidak lagi dihiraukan lagi oleh masyarakat dan pelaku demokrasi. Sehingga tujuan dari demokrasi untuk kemakmuran masyarakat tidak tercapai, yang dominan terjadi malah saling sikut dan berseteru.

 

Meghadapi kondisi tersebut, maka dalam momentum Dies Natalis ITS ke 53 dan Hari Pahlawan 10 November, Keluarga Besar ITS bersikap :

  1. Kembalikan Sistem Ekonomi Kerakyatan
  2. Kembalikan Kebudayaan Nasional yang Berkepribadian
  3. Bangun Kedaulatan Energi Nasional
  4. Benahi Peran Partai Politik sebagai embrio pemimpin nasional.
  5. Kembali Ke UUD 1945 dan falsafah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
  6. Reformasi Moral Kepemimpinan Nasional
  7. Pembenahan sistem Demokrasi yang bermoral dan beretika

 

Surabaya, 10 Nopember 2013

Keluarga Besar ITS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

November 2013
S S R K J S M
« Okt   Des »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: