Tulisan Avissena

Beranda » Gagasan » Car Free Night, Kebiasaan Masyarakat dan Mimpi Hemat BBM

Car Free Night, Kebiasaan Masyarakat dan Mimpi Hemat BBM

Tweet @avicciena

Anda Pengunjung ke...

  • 9,447

Image

Malam akhir tahun, lebih tepatnya tanggal 31 Desember 2013 dalam rangka memperingati pergantian tahun Pemerintah Kota Surabaya mengadakan Car Free Night atau sterilisasi beberapa ruas jalan dari kendaraan bermotor. Beberapa ruas jalan yang ditutup berada di empat lokasi seperti di Jalan Raya Darmo, Jalan Tunjungan, Jalan Panglima Sudirman, dan Jalan Gubernur Suryo.

Pemerintah Kota Surabaya bekerjasama dengan Polrestabes Surabaya mengadakan Car Free Night ini memiliki tujuan untuk memberikan hiburan kepada warga kota supaya memanfaatkan pergantian tahun dengan situasi menarik. Di sepanjang empat jalan tersebut bakal digelar berbagai acara mulai dari tari-tarian tradisional khas Surabaya, festival band, lomba cheerleader, streetball performance dan parkour, juga pameran produk dari 70 Usaha Kecil Menengah (UKM) di bawah naungan Dinas Koperasi dan UKM Kota Surabaya. Termasuk juga aksi berbagai komunitas di Kota Pahlawan.

Sekilas memang terdapat beberapa manfaat yang didapat dari Car Free Night Kota Surabaya ini antara lain memberikan tempat hiburan untuk masyarakat yang gratis namun berkesan, menciptakan ruang publik lebih banyak serta mengurangi jumlah kendaraan “berkeliaran” di jalan raya dan mengalihkannya untuk menempati tempat yang telah ditentukan.

Car Free Night yang menimbulkan masalah baru

Namun yang perlu diperhatikan lagi adalah dengan ditutupnya beberapa ruas jalan tersebut tentu akan mengakibatkan penumpukan kendaraan yang melintas pada titik-titik ruas jalan yang lain yang mengakibatkan kemacetan. Sehingga bukan keuntungan yang didapat akan tetapi inefisiensi penggunaan BBM pada kendaraan bermotor semakin meningkat. Selain itu, kemacetan juga akan menyebabkan polusi udara yang lebih banyak serta kerugian akibat waktu yang terbuang percuma (nilai waktu).

Hal ini disebabkan karena untuk menuju ke tempat Car Free Night, masyarakat harus menggunakan kendaraan pribadinya masing-masing dari rumah. Gambaran gampangnya, karena malam adalah malam tahun baru maka jalanan akan sangat ramai dan penuh sesak kendaraan pribadi baik motor maupun mobil, ditambah lagi pada malam itu diadakan Car Free Night yang mengalihkan beberapa kendaraan ke ruas jalan lain sehingga semakin menjadikan perjalanan dari rumah menuju ke tempat Car Free Night semakin sesak.

Kebiasaan masyarakat untuk keluar menyambut pergantian tahun semakin menjadi faktor utama penyebab kemacetan di Kota Surabaya ditambah dengan tidak adanya fasilitas transportasi umum yang berperan membentuk mental masyarakat untuk lebih menggunakan kendaraan pribadi daripada transportasi umum.

Akankah Surabaya terus seperti ini?

Sebagai kota mettopolitan kedua setelah Jakarta, Surabaya bertanggung jawab untuk memberikan kenyamanan trasportasi bagi masyarakatnya. Dengan luas wilayah 374,8 km2 dan jumlah penduduk 2,765 juta (2010) dengan aktivitas kota didominasi perdagangan,jasa dan Industri menjadikan Kota Surabaya mutlak memiliki fasilitas transportasi publik yang aman, nyaman dan layak digunakan.

Coba kita tengok negara sebelah kita,  Singapore, yaitu salah satu negara dengan transportasi publik terbaik di dunia. Tersedia berbagai moda transportasi yang memungkinkan baik penduduk maupun turis menjelajah negara pulau ini secara efisien dan tepat waktu, mulai dari MRT (mass rapid transit), yakni berupa subway (kereta bawah tanah), light rail transit (LRT) dalam bentuk monorel atau kereta layang, serta bus rapid transit yang menggunakan jalur khusus.

Bagaimana dengan kita? pemborosan terjadi di jalan raya, fuel consumption terbuang percuma karena macet, subsidi negara yang begitu besar untuk BBM Bersubsidi hanya menguap sia-sia serta waktu yang terbuang dengan sia-sia dan biaya kesehatan meningkat karena polusi udara yang tak terhindarkan.

Ubah konsep Car Free Night

Melihat beberapa hal diatas penulis merasa perlu untuk meninjau kembali program Car Free Night Kota Surabaya. Pada prinsipnya penulis sepakat dengan adanya program ini, namun dampak yang dihasilkan berupa kemacetan inilah yang harus dipikirkan bagaimana solusinya. Dan untuk solusinya sudah jelas yakni bagaimana Kota Surabaya menyediakan fasilitas transportasi publik.

Kemacetan saat Car Free Night bisa disiasati dengan penggunaan transportasi umum khusus sementara. Kenapa sementara? Sebenarnya permanen lebih bagus, namun melihat keadaan Kota Surabaya baik dari segi fasilitas maupun SDM pemerintah setempat yang belum mendukung sepenuhnya untuk adanya fasilitas trasnportasi publik, sistem trasnsportasi khusus sementara adalah solusinya.

Bagaimana cara kerjanya? Pemerintah Kota harus menyiapkan moda transportasi publik untuk malam tahun baru tersebut untuk mengantar masyarakat dari berbagai wilayah Kota Surabaya diiringi dengan dikeluarkannya peraturan yang melarang keberadaan sepeda motor di jalanan Kota. Lalu Car Free Night dapat dipusatkan menjadi satu titik lokasi yang sama sehingga semua moda transportasi publik  langsung diarahkan menuju ke lokasi.

Dengan dilarangnya sepeda motor “berkeliaran” digantikan dengan moda trasportasi massal maka akan sangat mengurangi kemacetan di Kota Surabaya dan menjadikan malam pergantian tahun tidak lagi menjadi malam penghamburan dana subsidi BBM.

Iklan

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2014
S S R K J S M
« Des   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: