Tulisan Avissena

Beranda » Uncategorized » Aku Bertanya, “Seberapa Besar Peran Pemilih Muda?”

Aku Bertanya, “Seberapa Besar Peran Pemilih Muda?”

Tweet @avicciena

Anda Pengunjung ke...

  • 9,046

Gambar

Pemilihan Umum (Pemilu) adalah satu-satunya saluran dan mekanisme kontestasi politik yang absah dalam rezim demokratis. Melalui pemilu ini pula hajatan nasional untuk memilih wakil rakyat untuk DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD kabupaten / Kota dan DPD serta pemilihan secara langsung presiden dan wakil presiden akan dikukuhkan. Dalam sistem electoral yang telah ditetapkan, Indonesia akan menghadapi kontestasi politik nasional yang dimulai pada 9 April 2014.

Satu cara yang konstitusional mengganti tampuk kekuasaan

Hanya terdapat satu cara yang diakui keabsahannya secara konstitusi untuk mengganti tampuk kepemimpinan negeri ini, yaitu melalui Pemilihan Umum. Karena Pemilihan Umum, selanjutnya disebut Pemilu, adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Peraturan KPU tahun 2002).

Meninjau pendapat para ahli, Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim: pemilihan umum tidak lain adalah suatu cara untuk memilih wakil-wakil rakyat. Dan karenanya bagi suatu negara yang menyebut dirinya sebagai negara demokrasi, pemilihan umum itu harus dilaksanakan dalam wakru-waktu tertentu.

Sementara itu, menurut Bagir Manan: Pemilihan umum yang diadakan dalam siklus lima (5) tahun sekali merupakan saat atau momentum memperlihatkan secara nyata dan langsung pemerintahan oleh rakyat. Pada saat pemilihan umum itulah semua calon yang diingin duduk sebagai penyelenggara negara dan pemerintahan bergantung sepenuhnya pada keinginan atau kehendak rakyat. Sangat jelas, bahwa hanya melalui pemilu ini pergantian kekuasaan secara sah dapat dilaksanakan, tidak melalui cara yang lain.

Terdapat kesimpulan sementara bahwa pemilu begitu penting untuk menentukan kemana arah bangsa selama tiap 5 tahun kedepannya. Pemilu yang diadakan tiap 5 tahunan ini untuk memilih anggota legislatif (baca wakil rakyat) dalam tingkat kabupaten/kota, propinsi dan nasional. Setelah itu, hasil pemilu legislatif inilah yang akan menentukan siapa yang bisa menjadi calon presiden melihat parliamentary threeshold (ambang batas parlemen) partai yang akan mengusung seorang calon presiden. Hal ini tentunya menjadikan pemilu legislatif merupakan hal yang juga penting karena dapat menentukan siapa presiden yang akan “bertarung” saat pemilu.

Hal penting yang kemudian menjadi tidak penting

Kita merasakan suatu hal yang ironi mengingat pemilu yang begitu penting bagi keberlangsungan kehidupan bangsa justru kurang mendapatkan sambutan yang antusias dari masyarakat. Jika melihat tingkat partisipasi masyarakat dari periode ke periode pemilu tercatat partisipasi masyarakat sebagai berikut yaitu Pemilu 1971:  94%, Pemilu 1977: 90%, Pemilu 1982: 90%, Pemilu 1987: 90%, Pemilu 1992:90%, Pemilu 1997:90%, Pemilu 1999: 93%, Pemilu 2004:84%, Pemilu 2009:71%. Kita melihat terjadi tren penurunan sebesar 10% pada tiap periode pemilu pasca reformasi. Ada apa gerangan? Apa yang menyebabkan “acara” yang begitu penting ini kehilangan pamornya dalam hati rakyat?

Pemilu 1999 telah menjadi klimaks dari partisipasi politik masyarakat sehingga menunjukkan euforia politik rakyat yang makin luntur seiring berakhirnya Rezim Orde Baru. Hal ini juga tidak lepas dari kian seringnya pemilu itu digelar, baik di tingkat nasional (presiden, DPR, dan DPD) maupun di tingkat daerah (pemilu-kada gubernur dan walikota).

Pemilu bagi kalangan anak muda

Bagi sebagian anak muda, pemilu yang cukup sering diadakan ini telah menjadi tidak menarik. Mengingat produk kepimpinan yang dihasilkan dari ‘big event’ ini hampir sebagian besar tidak sesuai harapan saat menjalankan amanahnya. Pemilu yang merupakan manifestasi demokrasi sehingga diharapkan dapat menghasilkan kesejahteraan rakyat belum menunjukkan perannya. Alih-alih kesejahteraan rakyat yang dihasilkan, namun malah menjadikan blunder bagi rakyat dikarenakan perampokan uang rakyat yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab itu secara besar-besaran dalam rangka mengembalikan uang saat kampanye berlangsung.

Sementara itu, pemilihan umum memiliki nilai strategis untuk mengisi jabatan politik dengan mereka yang lebih bersih, mampu dan punya rekam jejak bagus. Masyarakat diharapkan tidak memilih calon anggota legislatif yang terindikasi korupsi atau tidak memiliki semangat anti korupsi yang kuat.

34% jumlah pemuda adalah peluang titik balik negeri ini

Jika kita berpikir pesimis terhadap jumlah partisipasi pemilih pada tahun 2014 kali ini maka presentase publik yang terjaring sebagai pemilih adalah sebesar kurang lebih 60% Mengingat titik kulminasi demokrasi yang tercapai pada saat reformasi 1999 yakni sebesar 93% dan terus menurun sebesar 10% setiap 5 tahun sekali. Dengan proporsi jumlah pemilih muda sebesar 34% atau sebanyak 59,2 dari 185 juta adalah pemilih muda yang dapat menentukan 100 kursi di DPR  (Kompas cetak, 17 maret 2014) dan diasumsikan seluruh pemilih muda tersebut berpartisipasi semua maka terdapat beberapa prediksi yang dapat sedikit kita bahas.

Karakter pemilih muda; entitas yang selektif

Momentum strategis pemilu hendaknya tidak disiakan oleh pemilih muda. Beberapa situs yang dapat dimanfaatkkan oleh pemilih muda untuk mengakses informasi caleg seperti checkyourcandidates.org, politikuang.net, pantaupemilu.or.id, orangbaik.org dan matamassa.org dapat dijadikan tools agar menjadi lebih selektif dalam memilih.

Dengan harapan seluruh pemilih muda yang cerdas dapat turut berpartisipasi dengan menghasilkan 100 anggota legislatif berkualitas dari total 560 kursi yang tersedia. Maka setidaknya terdapat 100/560 atau artinya sekitar 17,8% anggota legislatif yang dapat diandalkan dalam mengemban amanah masyarakat.

Ayo berpartisipasi wahai Pemilih Muda.

Moh. Yusuf Hasbi Avissena

Pegiat BEM ITS 2013-2014

Ditemani gemericik suara akuarium asrama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Maret 2014
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: