Tulisan Avissena

Beranda » Opini » Ahh, makin Indonesia saja…

Ahh, makin Indonesia saja…

Diawali dengan kebingungan langkah gerak yang tak kunjung pasti pada saat menjelang pemilu 9 April 2014  kemarin dikarenakan inkonsistensi informasi yang beredar kepada khalayak publik berkenaan dengan komitmen KPU Jatim yang akan mempermudah siapapun warga jatim dalam menyalurkan hak politiknya sebagai warga negara. Mengingatkan saya pada saat audiensi BEM Jatim ke KPUD yang menghasilkan kesepakatan bahwa KPUD Jatim akan mempermudah pindah pilih bagi seluruh KPU Kabupaten/ Kota, PPK, PPS untuk mempermudah bagi siapapun yang akan melakukan pindah pilih khususnya mahasiswa dan orang yang bekerja diluar kota. Ditambah lagi dengan kemudahan yang dijanjikan KPU Kota Surabaya yang mengijinkan pindah pilih difasilitasi secara kolektif melalui organisasi mahasiswa.

Saya menjadi sangat bersemangat apalagi didasari dengan bagaimana dapat mengadvokasi kawan-kawan mahasiswa yang kesusahan untuk pulang kampung. Dengan begitu semangat maka Ppindah Pilih kolektifpun digembar-gemborkan. Bahkan sebelumnya saya mengajak kawan-kawan staf untuk begadang sampai malam untuk bersama-sama merekap semua data yang masuk, yang ditotal jumlahnya sekitar 700 lebih mahasiswa.

Namun apa daya, “Rule is Rule, madam”, seperti yang dikata salah seorang penjaga Masjid Mezquitta kepada Hanum (yang diperankan oleh Acha Septriasa) oleh pada film 99 Cahaya di Langit Eropa) season 2 yang spontan bersujud dalam bangunan yang dulu pada saat zaman pertengahan adalah masjid. KPUD Jatim menginstuksikan kepada KPU Surabaya untuk membatalkan kebijakannya dan meminta mahasiswa untuk datang secara individu ke KPU Kota. Dan tahu kapan hal ini diumumkan? yakni hari Jumat, 4 April 2014 sore hari menjelang maghrib, melalui handphone saya. Dan pengurusan itu hanya sampai hari minggu. Apa-apaan ini!!?? kata saya dalam hati.

Ingat sekali, senin adalah Hari Raya Nyepi. Kawan-kawan banyak yang jum’at itu pulang ke kampungnya masing-masing. Bagaimana pula meminta yang pulang kampung itu untuk mengurus pindah pilih?. Namun yang pasti sesigap mungkin segera dilakukan jarkom kepada seluruh 700an nomor itu agar berita segera tersampaikan.

Lanjut pada saat pemilu 9 April, energi yang tersedot pengurusan pindah pilih menjadikan langkah massal untuk menurunkan relawan dari seluruh elemen mahasiswa kampus juga terkendala. rencana B pun dibuat, BEM menurunkan relawannya sendiri. Siapa? Dari fungsionaris BEM sendiri. Dengan hashtag #RelawanMuda dan #PantauTPS kawan-kawan secara sukarela dimintasi tolong untuk menjadi relawan dengan “sangu” berupa form yang berisi beberapa checklist untuk diisi. Respon baikpun bermunculan, ternyata tidak hanya dari anak BEM saja, tetapi juga banyak mahasiswa yang juga memantau saat pencolosan berlangsung. Akun @BEM_ITS-pun ramai mendapatkan laporan pemilu disana-sini. Termasuk juga terdapat laporan tentang kitidaksamaan kebijakan yang diambil pada tiap TPS berkenaan dengan pindah pilih. “Ahh, makin Indonesia saja..”

Penting menjadi evalusi saat pemilu Presiden 9 Juli nanti. Semoga hal yang seperti ini tidak terulang kembali. Pengawalan relawan, kesiapan pindah pilih, harus diatur dengan lebih cermat.

Diajak rapat oleh IKA dan panitia bedah buku “Road to Semen Indonesia” bertempat di BKPKP Rektorat ITS membuat saya semakin yakin bahwa akan terbuka lebar ruang partisipasi mahasiswa dalam kegiatan tersebut entah sebagai panitia maupun peserta. Disepakati dari hasil rapat tersebut BEM dilibatkan sebagai panitia bersama kawan-kawan TEDx dan jumlah mahasiswa S1 yang dapat mengikuti bedah buku sejumlah 300 orang,alhamdulillah.

Haripun semakin dekat dengan 11 April, saya mendapat kabar terbaru dari IKA, jumlah mahasiswa S1 yang tadinya 300, dikurangi menjadi 200 mahasiswa. Tidak sesuai hasil rapat, namun inilah keputusan IKA sebagai penyelenggara utama acara. Beberapa persiapan sudah dialakukan, termasuk diantaranya menyebar poster dan pengambilan undangan (undangan untuk mendapat “seminar prize”). Alhamdulillah dapat berjalan dengan baik semua. Undangan untuk 200 mahasiswa juga telah tersebar.

Acarapun berlangsung, kagetnya kawan kawan hublu ketika melihat terdapat kawan-kawan TEDx yang menjadi panitia yang menhandle setiap pekerjaan dalam acara itu. Sesegera mungkin saya konfirmasi, “oh, iya, kawan-kawan TEDx saja yang handle, gpp ya” begitulah jawaban penyelenggara.

Saya ingin membahas beberapa undangan yang tidak mendapatkan “seminar prize” (sebutan saya sendiri) berupa power bank dan flashdisk. Seharusnya, jumlah undangan 200, maka yang mendapat “seminar prize” itu juga 200 orang juga, namun masih ada saja yang usil sehingga tidak semua yang mempunyai undangan mendapatkannya. “Ahh, makin Indonesia saja”

Berfikir kedepan, nanti malam 14 April akan diadakan evaluasi tengah tahun BEM dan Diskusi internal yang membahas pemikiran RA Kartini untuk peringatan 21 April nanti. Saya juga berkeinginan untuk mengadakan acara bedah tokoh, diskusi “Emansipasi; antara kebebasan dan kebablasan” juga saya ingin membuat sedikit “huru-hara” dalam peringatan sang raden Ajeng tersebut.

Diskusi ber-lima orang di Material juga menghasilkan beberapa catatan, diskusi membahas tambang ini pesertanya sementara hanya saya, Rahman BEM FTI, Zaki Material, Tio Tekkim dan Latif Mesin. Semoga diskusi mingguan dapat berjallan rutin. Ya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: