Tulisan Avissena

Beranda » Gagasan » Pergerakan Kaum Buruh; Politieke toetstand, Machtvorming dan Persatuan

Pergerakan Kaum Buruh; Politieke toetstand, Machtvorming dan Persatuan

Tweet @avicciena

Anda Pengunjung ke...

  • 9,447

Tanggal 1 Mei ini sekaligus menjadi perayaan pertama Hari Buruh dengan status libur resmi, setelah satu tahun lalu satu 1 Mei ditetapkan sebaagai hari libur resmi nasional sebagaimana pada era orde lama.

demo-buruh

Pada perayaan hari Buruh di masa lalu, Bung Karno yang selalu hadir dalam perayaan Hari Buruh, menyatakan perjuangan politik paling minimum gerakan buruh adalah mempertahankan politieke toetsand, yakni sebuah keadaan  politik yang memungkinkan gerakan buruh bebas berserikat, bebas berkumpul, bebas mengkritik dan bebas berpendapat. Politieke toetstand ini memberikan ruang bagi buruh untuk melawan dan berjuang lebih kuat.

Selanjutnya Bung Karno menyatakan bahwa gerakan buruh harus melakukan machtvorming yakni proses pembangunan dan pengakumulasian kekuatan. Machtvorming dilakukan melalui pewadahan setiap aksi dan perlawanan kaum buruh dalam serikat-serikat buruh, menggelar kursus-kursus politik, mencetak dan menyebarluaskan terbitan, mendirikan koperasi-koperasi buruh dan sebagainya.

Gerakan buruh di Indonesia telah memasuki tahap politieke toetsand, namun pasti Soekarno akan kecewa melihat kebebasan buruh yang telah dimiliki buruh tidak digunakan untuk berlanjut pada fase lanjutan machtvorming, tetapi dilakukan dengan berlomba-lomba mendirikan organisasi serikat buruh dan berlomba-lomba menjadi pimpinan organisasi-organisasi baru tersebut. Kekalahan dalam kongres direspon dengan keluar dari organisasi dengan membawa para pengikutnya untuk kemudian mendirikan organisasi baru.

Kekuatan buruh sebagai penyeimbang Kapitalis Internasional

Dalam sejarah gerakan buruh Internasional, gerakan buruh di Eropa dan Amerika akhir 18001n dinobatkan sebagai generasi awal pengakuan gerakan buruh sebagai kekuatan penyeimbang keserakahan kaum kapitalis. Di era inilah lahir sistem jaminan sosial, upah miimum, Hari Buruh (May Day), pembatasan jam kerja dan jaminan keselamatan kerja.

Gelombang kedua gerakan buruh terjadi pada tahun 19070-1980an di Brazil, Korea Selatan, Argentina dan Meksiko yang juga telah berhasi melembagakan gerakan mereka seperti generasi pertama. Buah dari perjuangan buruh ini antara lain demokrasi yang semakin baik, pertumbuhan ekonomi dan meluasnya industrialisasi dikarenakan suasana yang kondusif.

Gelombang ketiga rasanya dapat dipelopori di Indonesia mengingat beberapa kondisi di Indonesia tidak terdapat dalam negara-neagara lain, kondisi tersebut antara lain kondisi ekonomi Indonesia yang terus membaik, urutan ke-13 dunia dalam besaran PDB dan negara demokrasi keempat terbesar di dunia.

Gelombang ketiga yang ditunggu-tunggu ini menjadi penting mengingat Gerakan Buruh yang kuat telah memberikan kontribusi terhadap menurunnya ketimpangan ekonomi dan pendapatan, memperkuat hubungan industrial yang damai, mengurangi frekuensi demonstrasi dan memperkuat demokrasi. Kita patut melihat yang telah terjadi pada beberapa negara yang memiki gerakan buruh yang kuat cenderung memiliki rasio gini yang kecil, demokrasi stabil dan demo buruh nyaris tidak pernah terjadi. Apalagi demo yang berkitan dengan upah minimum. (kalo di Indonesia, dari dulu UMR terus yang dituntut, gak berubah-berubah..hehe)

Bersatu untuk menghadapi tantangan yang lebih besar

Agenda penyatuan gerakan buruh menjadi agenda sangat penting dan dibutuhkan saat ini karena persatuan merupakan prakondisi yang diperlukan untuk menjadi kekuatan penekan yang lebih besar terhadap kapitalis Internasional.

Kita tidak boleh lupa, tantangan lebih besar kedepan dan terdekat adalah menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, ketika hampir semua serikat pasar dibuka. Kita tidak menginginkan bahwa gerakan buruh semakin terpecah belah sehingga semakin termarjinalkan karena setiap pihak senantiasa kekeuh dengan ego masing-masing.

Sembari berharap terjadi sinergi antara semua pihak, dari pemerintah diharapakan dapat menghilangkan pungli disana-sini dan menyederhanakan alur birokrasi yang berbelit, perusahaan dan industri berperan dalam meningkatkan produktivitas dan keterampilan buruh, sementara pemimpin buruh penting untuk ikut menjaga kepentingan buruh dan berjalan beriringan bersama perusahaan.

—————————————————————————————————————————————————–

Disarikan dari;

Kompas cetak Rabu 30 April 2014, Kolom Opini, “Pergerakan Buruh Indonesia” oleh: Rekson Silaban

Kompas cetak Rabu 30 April 2014, Kolom Opini, “Politik Buruh 2014” oleh: Surya Tjandra

Kompas cetak Rabu 30 April 2014, Tajuk Rencana, “Hari Buruh dan Kepentingan Nasional” Tim Redaksi Kompas

—————————————————————————————————————————————————–

Moh. Yusuf Hasbi Avissena

BEM ITS 2013-2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juni 2014
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: