Tulisan Avissena

Beranda » Resensi Buku » ULASAN BUKU “LETTERS TO KAREL”

ULASAN BUKU “LETTERS TO KAREL”

Hampir setahun setelah lulus dari kampus saya membaca buku ini dan itu. Mulai dari novel, sejarah, bisnis, pengembangan diri dan lain sebagainya, bahkan saya merasa intensitas membaca saya jauh lebih banyak sekarang dibandingkan semasa kuliah.

Sebuah buku yang saya baca tiap lembarnya selalu menjadikan air mata menitik dan berlinang–dan setelah terasa di pipi–buru-buru saya menutupnya untuk mencegah air mata ini berlinang lebih banyak. Baru kemudian beberapa saat lagi saya buka dan saya tutup kembali saat air mata mulai berlinang lagi. Terus begitu hingga buku ini tuntas saya baca. Dan akhirnya bisa juga selesai, alhamdulillah.
Lebay ya kayaknya? Buku apa sih ini?
Saya menjelaskan keadaan saya apa adanya, seorang yang sanguin koleris, yang begitu mudahnya menitikkan air mata saat buku ini saya baca. *halah
Kembali ke topik utama. Inilah buku “Letters to Karel” tulisan dari Nazrul Anwar, alumnus IPB, yang juga seorang manajer di Rumah Kepemimpinan PPSDMS Regional Bogor.
Setiap orang pasti memiliki sudut pandang yang berbeda dalam membaca sebuah buku. Namun saat membaca buku ini saya merasa bahwa saya adalah seorang Nazrul, saya adalah Abi dalam buku ini, dan entah siapa Ummi nya. Karena memang Nazrul menuliskan buku ini sebagai ‘orang pertama serba tahu’ (hayo ingat Mapel Bahasa Indonesia kan), sehingga pembaca merasa dirinya berperan langsung sebagai Abi atau Nazrul dalam kehidupan yang sebenarnya.
Tidak pernah terbayangkan dalam benak saya sebelumnya jika suatu saat kehilangan orang yang amat saya cintai seperti yang ditulis Nazrul dalam buku ini.
“Kehilangan adalah sebuah keniscayaan, Karel”, begitulah Nazrul berpesan kepada anaknya Karel Sulthan Adnara. Dan saya merasa pesan itu bukanlah hanya untuk Karel saja, namun untuk kita, ciptaan Allah swt yang dengan tertatih selalu berusaha menggapai ridhoNya.
Saya jadi teringat saat harus kehilangan Ayah saat usia masih kelas 1 SMP. Banyak sekali kenangan indah bersama beliau semasa hidup saat saya masih kecil.
Suatu saat di salah satu ladang milik ayah yang luasnya kira-kira hampir setengah hektar. Para pekerja bekerja seperti biasanya mereka bekerja. Namun saya diajak ayah menanam pisang dari arah sebaliknya dari posisi para pekerja itu. Tahu yang dilakukan ayah saya? Beliau meminta saya untuk mencangkul! Saya yang pada waktu itu masih usia SD hanya mengangguk saja sambil bertanya dalam hati “kan sudah ada pekerja, kok Ayah minta saya juga buat mencangkul?” Belum puas menyuruh saya mencangkul, ayah juga meminta saya mengambil pohon pisang kecil untuk ditanam di tempat yang saya cangkul tadi sampai selesai pekerjaan.
Singkat cerita, setelah berpanasan di ladang itu Ayah saya berpesan, “untuk mendapatkan buah yang nikmat, kita harus capek dulu, harus keluar keringat dan tenaga, dan nanti pasti bisa kita petik buahnya.”
(Kok jadinya cerita Alm. Ayah ya..)
Kembali ke pembahasan, jujur saya mendapatkan nasihat yang amat bernilai dari membaca buku ini. Saya diajarkan kembali, bagaimana seharusnya manusia memposisikan diri sebagai makhluk terhadap Sang Pencipta, bagaimana seharusnya bersikap saat kehilangan orang yang teramat kita cintai, dan bagaimana kita merajut mimpi-mimpi kembali setelah diuji Allah sebagaimana Nabi Ya’qub yang berbahagia setelah diuji olehNya atau Nabi Muhammad saw yang berbahagia saat berjaya di Madinah dan kembali menaklukkan Makkah setelah hijrah meninggalkan keluarga dan kampung halaman sekian lama. Tidak lain karena kesabaran, keteguhan tekad dan percaya kepada Yang Maha Menepati Janji.
Kalo saya boleh menambahkan satu bab lagi di buku ini yang akan saya tambahkan adalah, “Abi milik Allah, Ummi milik Allah, dan kamupun juga milik Allah, Karel” untuk semakin memantapkan hati kita bahwa kita diciptakan olehNya dan pasti akan kembali kepadaNya.
Saat saya diajak untuk menjadi seorang Nazrul atau Abi dalam buku ini, saya selalu bertanya, “gimana ya kalo saya beneran harus kehilangan istri saat melahirkan anak pertama? harus mencarikan ASI Perahan untuk buah hati nanti?, atau harus menggendong buah hati sambil memalingkan wajah karena tak kuasa menahan tangis didepannya?”. Nazrul mengajak saya melalui buku ini untuk menyadari bahwa betapa kecilnya kita dan betapa Besarnya Allah, betapa fakirnya kita dan betapa Kayanya Allah dalam rangka menggali keikhlasan sedalam-dalamnya untuk menjalani apa ketetapan Allah untuk kita.
Buku yang terdiri dari tiga puluh lima bab dan ditutup dengan “salam dari ummi” sangat ‘recomended’ buat dibaca oleh siapapun, terutama orang tua dan calon ayah dan ibu.
Akhir kata, sudah terlalu banyak saya berceloteh disini. Tidak ada sama sekali niatan endorse atau promosi buku ini karena memang saya tidak jualan buku (tapi jualan batik..lah malah promosi).
Terimakasih sudah baca tulisan saya.

Untuk kang Nazrul, salam saya buat si kecil nan sholih, Karel. “Om ingin menjadi ladang amal sholih untuk Alm. Ayah, ayok kita sama-sama belajar dan beramal yaa”.

Rembang, September 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2015
S S R K J S M
« Nov   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: