Tulisan Avissena

Beranda » Uncategorized » SETITIK NILA YANG SEHARUSNYA TIDAK ADA

SETITIK NILA YANG SEHARUSNYA TIDAK ADA

Tweet @avicciena

Anda Pengunjung ke...

  • 9,447

Mendapatkan kesempatan untuk dapat mengikuti Latihan Dasar Disiplin dan Bela Negara di lingkungan PUSLATDIKSARMIL TNI Angkatan Laut merupakan kesempatan pertama bagi saya dan semoga menjadi yang terakhir pula sebagai tanda bahwa saya telah diangkat sebagai pegawai tetap PT. Angkasa Pura I.

Selama 10 hari calon pegawai PT. Angkasa Pura I rekruitmen 2015 dibina dan ditempa ala militer di Pusat Pelatihan dan Pendidikan Dasar Militer TNI Angkatan laut markas juanda Surabaya. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang memang sudah menjadi menu wajib yang harus dilahap oleh setiap pegawai sesaat setelah pegawai tersebut dinyatakan diterima.

Berbekal email surat yang ditanda tangani direksi perusahaan, saya dan teman-teman satu angkatan rekruitmen mengikuti kegiatan ini. Pada awalnya, dengan aktivitas fisik yang cukup berat setiap harinya, dituntut pula untuk dapat mengikuti materi dengan sebaik-baiknya, kami berpikir bahwa 10 hari akan menjadi waktu yang sangat lama, namun setelah dilalui hari demi hari akhirnya masa-masa “berat” ini pun terlalui juga.

Pekan Pelatihan Dasar Disiplin dan Bela Negara PT. Angkasa Pura I tahun 2015 terdiri dari dua tahap. Yang pertama adalah tahap orientasi yang berlangsung selama 2 hari, dan sisanya adalah tahap pelatihan  Teringat sekali waktu itu pada hari senin, tanggal16 November 2015, suara sirene yang amat keras menandai pembukaan acara orientasi pecan pelatihan ini.

Suara sirene yang keras inipun kemudian disusul dengan bentakan dari para pelatih memerintahkan kami semua—dari yang tadinya berdiri dalam posisi siap—lalu diperintahkan tiarap, lalu berguling-guling ke kanan dan kekiri, setelah berguling-guling kita diperintahkan untuk jongkok, lalu jalan jongkok sambil bernyanyi. Belum selesai sampai disitu, kemudian ada perintah tiarap lagi lalu kami merangkak bersama-sama juga sambil bernyanyi. Setelah merangkak dengan jarak yang cukup lumayan melelahkan lalu ada perintah berdiri, sontak kami langsung berdiri. Lalu setelah berdiri ada perintah melumuri wajah dengan tanah dari air comberan (banyu got kalo dalam bahassa jawa). Lalu semua peserta lari tunggang langgang menceburkan diri ke air comberan itu dan melumuri wajah masing-masing dengan secepatnya pula kami kembali ke posisi sebelumnya di lapangan. Melihat sebagian wajah belum terlumuri tanah air comberan dengan sempurna, kami diminta berlari lagi menuju comberan untuk menyempurnakan pelumuran wajah. Belum selesai juga rupanya, lalu kami diminta berlari keluar lapangan dan kemudian tiarap dan merangkak lagi, lalu jalan jongkok sambil menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi”.

Alhamdulillah hampir semua peserta dapat melalui tahap “pengenolan” ini (pengenolan—adalah istilah pelatih dari TNI untuk menyamakan kondisi mental peserta menjadi sama pada titik 0), hanya sebagian kecil saja yang manangis dengan kerasnya, ada yang lemes, ada juga yang shock. Meski sebagian dari kami ada yang melepuh karena push up di lapangan paving yang panas, ada juga yang lecet tangannya karena merangkak dan masih banyak lagi luka-luka ringan namun penuh kenangan pada masa pembukaan orientasi.

Tahap “pengenolan” ini diakhiri dengan perenungan perjuangan orang tua kita yang ada dirumah, dengan segenap perjuangan dan doanya yang telah mengantarkan kami semua mencapai titik ini. Banyak yang menangis—termasuk saya—mengingat perjuangan ibu dan semangat almarhum ayah saya. Setelah itu semua peserta menyanyikan lagi “Bintang Kejora” dan diminta untuk tertawa sekeras-kerasnya untuk melupakan apa yang baru saja dilalui.

MAKAN NASI KOMANDO

Hari demi hari kami lalui, ada yang bersedih, ada yang menyesal, namun ada pula yang bersemangat dan bahagia. Termasuk saya, saya memilih untuk bersemangat dan berbahagia serta ikhlas, karena menurut saya rugi sekali, aktivitas fisik yang kita lakukan tiap harinya sudah cukup menguras tenaga, lalu apakah kita tidak ingin meringankan aktivitas berat ini dengan semangat dan kebahagiaan?

Kalau tidak salah, pada hari ketiga waktu sarapan pagi. Seperti biasa semua peserta berbaris tiap peleton menuju ruang makan sambil bernyanyi dan meneriakkan yel-yel semangat. Namun setibanya di depan ruang makan pemandangan yang biasanya tampak—sebuah nasi kotak pada tiap meja—ternyata tidak ada. “wah, pasti makan aneh-aneh ini”, kataku dalam hati. Pelatih dari TNI AL menyampaikan bahwa terdapat kendala teknis dalam proses memasak sarapan, yaitu kehabisan gas LPG. lalu digiringlah kami menuju lapangan dan melakukan jalan-jalan pagi berkeliling agar nanti saat sarapan bisa bersemangat menghabiskan makanan. Dan “Nasi Komando” akhirnya datang.

Nasi Komando adalah menu yang terdiri dari nasi, urap-urap daun papaya dan mentimun, telur ayam dan minumnya adalah butrowali (jamu pahitan). Telur ayam yang masih mentah dituang diatas nasi dan diaduk-aduk bersama urap sampai merata seluruhnya dan semua peserta diminta untuk memakan itu sampai habis tak tersisa termasuk minumannya yang sangat pahit rasanya.

10 hari berlalu

Berbagai materi dan latihan telah diberikan, termasuk diantaranya materi bongkar pasang senjata, baris berbaris, karate dasar, etika pergaulan, penghormatan militer, kerukunan antar umat beragama, kepemimpinan, mounteneering, outbound dan joget komando. Tidak hanya itu, nilai kedisiplinan, jiwa korsa juga ditancapkan pelatih kepada kami selama 10 hari pelatihan.

Pelatihan ditutup dengan persembahan dari kami kepada segenap direksi dan pimpinan PT. Angkasa Pura I (Persero) yang menghadiri sekaligus menutup acara pelatihan. Persembahan tersebut antara lain bongkar pasang senjata dengan mata tertutup, baris berbaris dengan formasi tanpa aba-aba serta karate tingkat dasar. Ketiga persembahan ini kami latih setiap hari terutama menjelang penutupan. Pagi berlatih, siang berlatih bahkan sampai malam tetap melakukan hal yang sama sampai akhirnya keluarlah pujian dari pimpinan kami bahwa kami semua telah melalui pelatihan ini dengan baik sekali. Tangis haru bahagia menutup perjuangan kami diiringi lagu syukur yang teramat syahdu sambil bersalaman dengan pejabat PUSLATDIKSARMIL dan PT. Angkas Pura I.

Sayangnya, ada nila setitik

Motif ekonomi memang menjadi salah satu dasar manusia dalam bertindak. Termasuk diantaranya saat menjalankan tugas yang memang sudah seharusnya menjadi kewajibannya dengan ikhlas tanpa meminta lagi imbalan kecuali dari Negara dalam bentuk gaji yang memang sudah menjadi hak pegawai tersebut.

Barulang-ulang kami semua ditekankan pelatih dari TNI AL untuk bekerja dengan ikhlas dan penuh semangat. Selalu bekerja dengan membawa kehormatan, kejujuran, kebanggaan dan totalitas. Pelatih berkata, “Jangan sampai kita meniru oknum………..yang sukanya meminta uang damai saat menjalankan tugasnya menertibkan masyarakat”. Sejak saat itu saya sangat menaruh rasa hormat yang tinggi sampai kepada pelatih saya.

Adapun nila setitik yang saya maksud adalah perbuatan oknum pelatih yang meminta “kenang-kenangan” yang harus dalam rupa fresh money yang harus disetor malam itu juga pada malam terakhir pelatihan. Seketika, image yang sudah terbentuk dalam benak saya atas pelatih termasuk setiap pesan yang telah ditekankan dan disampaikan seolah pecah seperti gelas yang jatuh atau cermin yang dilempar batu karena ulah oknum tersebut.

Saya menyadari bahwa tidak bisa melakukan generalisasi karena perbuatan satu dua orang oknum, namun karena ulah oknum itulah seolah-olah seperti mencoreng wajah anggota yang lain termasuk institusi yang menaunginya.

Akhir kata, semoga Tuhan mengampuni bangsa ini atas segala dosa-dosa yang telah diperbuatnya karena Tuhanlah Yang Maha Kasih dan Maha Pengampun. Dosa para pemimpinnya, dosa para penegak hukumnya, dosa PNSnya termasuk dosa-dosa rakyatnya semua semoga diampuni Tuhan Yang Maha Kuasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Desember 2015
S S R K J S M
« Sep   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: