Tulisan Avissena

Beranda » Uncategorized » Surat Untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia

Surat Untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia

Tweet @avicciena

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Anda Pengunjung ke...

  • 8,789

Kepada para pemimpin Indonesia masa depan
Di manapun Anda berada
Di dunia yang semakin global
Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk “Made in The World” seperti celana jeans yang saya pakai sekarang. Karena,
walaupun saya beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”, celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain pembuatannya.

Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata “leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengetahuan yang dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang yang berkecamuk. Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia berani mendobrak keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku untuk survive di berbagai kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di
Jakarta, Tidakkah dia takut dengan keterbatasannya? Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia
inginkan.

Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi sendiri pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker lymphoma non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di medulla spinalis saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya
kehilangan kemampuan untuk berjalan. Bulan-bulan yang melelahkan karena harus berobat ke sana kemari, dan akhirnya berujung kepada keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan kursi roda.

Saya ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup saat itu.
Keterbatasan menghadang di banyak hal. Usia saya baru 17 tahun waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya harapkan. Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi tembok besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus dilontarkan kepada kita sehingga kita tidak berani maju dan terus mundur?

Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan
menerima kenyataan. Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa
lapangan pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap.
“Reality bites” kata orang. Betul itu. Tapi menerima “gigitan” itu berguna
untuk membuat kita mampu menyusun strategi baru. Menghindarinya atau lari darinya justru membuat kita terlena mengasihani diri kita terus menerus
dan menenggelamkan kemampuan kita untuk dapat melawan balik.

Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya. Tidak!
Mimpi tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan,
bahkan dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup. Ketika keterbatasan dan
ketakutan melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan,
tapi tidak akan hilang. Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya
kembali, dan ketika mimpi telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan memberikan cahaya terhadap pilihan jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkannya.

Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat saya semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan kita untuk menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survivalnya di muka bumi ini. Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme primitif yang dimiliki organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari
dari ancaman, atau… melawannya!

Ketika pilihannya adalah melawan,
maka perangkat perang telah disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu terwujud dalam kemampuan bouncing back—daya pantul, yang jika digunakan mampu membuat kita memantul tinggi ketika kita dihempaskan ke tanah. Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu
bekerja. Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan
tidak akan hadir.

Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang
rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini. Ketika membuat pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki tangga bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika memutuskan untuk kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bisa praktikum kuliah, ketika harus menjalani kemoterapi, ketika memulai bekerja, ketika naik pesawat, ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika melamar calon istri, ketika mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang General Electric International Operations Company, Inc. asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE di Indonesia…. Saya takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi menghujami saya.

Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya tempuh. Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya gunakan, saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang
didukung oleh ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak
dikenal, yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan
saya. Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah
yang harus saya jalani, saya nikmati. Hasil peperangan sendiri tidaklah
terlalu penting, karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi.
Kalau mati, saya akan mengakhiri perang dengan senyum, karena saya
tahu saya telah berjuang dengan sebaik-baiknya. Sang Pencipta lah yang pada akhirnya memilihkan hasil dari perjuangan kita.

Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan
mimpi yang ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi
pengikut. Jika mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani
mempimpin diri anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda
dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan anda.

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidup
sekarang ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun. Sekitar 40% dari pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi terbesar dunia, dan tidak ada satu pun yang berasal dari negara kita (133 dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya 136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan keuntungan terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing Indonesia terukur pada ranking 46. Singkat kata, kita masih belum
menjadi pemeran utama di panggung dunia yang tak berhenti
mengglobal.

Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah.
Tidak berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan
langkah anda untuk berperang.

Handry Satriago
CEO
GE Indonesia
BRI II Tower, 16th Floor
JL. Jend Sudirman No. 44-46.
Jakarta 10210
Indonesia
T +62 21 573 0466
F +62 21 573 0561
Jakarta, 9 July 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Maret 2016
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: