Tulisan Avissena

Beranda » Uncategorized » JANGAN TAKUT SENDIRIAN

JANGAN TAKUT SENDIRIAN

Tweet @avicciena

Anda Pengunjung ke...

  • 9,046

Suatu ketika di salah satu universitas ternama di Jepang sedang berlangsung hari pertama materi kuliah Electrical Engineering. Kelas tersebut berisi 40 mahasiswa, 39 diantaranya berasal dari Jepang dan 1 sisanya berasal dari Indonesia. Uniknya seperti menjadi kewajiban berjamaah, ketika sang profesor masuk menjelaskan silabus kuliah 39 mahasiswa tersebut tertidur pulas sementara 1 sisanya memperhatikan dengan seksama. Panjang lebar menjelaskan namun hanya 1 yang memperhatikan membuat  sang profesor naik pitam. Seketika kegeraman sang profesor membuat dirinya menghentikan penjelasannya dan memilih keluar kelas kembali menuju ruangannya.

Tak ingin membiarkannya keluar begitu saja, 1 mahasiswa Indonesia tersebut ganti yang naik pitam, ia menggebrak meja belajarnya dan mengatakan, ‘Profesor, tolong jangan samakan saya dengan ke-39 mahasiswa lainnya yang sedang tertidur ini, saya jauh-jauh datang dari Indonesia hanya untuk menggali ilmu, kenapa malah profesor tega meninggalkan kelas ?”. Gertakan tersebut tetap tidak membuat profesor mengurungkan niatnya untuk keluar kelas. Namun ia juga meminta mahasiswa yang menggebrak meja tersebut datang menemuinya di ruangan khususnya.

Sesampainya di ruangan profesor, ia menjelaskan panjang lebar maksudnya. Sang Profesor mulai kesengsem dengan semangat mahasiswa satu ini. Karena keinginannya yang kuat sang profesor memberikan buku diktat setebal 1000 halaman yang harus dipahaminya dalam waktu hari 3 hari. Sebagai lulusan Teknik Mesin yang beralih mempelajari bidang electrical memahami buku setebal itu bukan perkara mudah. Tapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh mahasiswa tersebut. Dengan keyakinan dan semangatnya ia mampu memahami dan menjelaskan 3 hari kemudian di hadapan profesor dengan sangat memuaskan.

Kalau ada yang bertanya, siapakah mahasiswa tersebut ? Jawabannya adalah pemilik 14 hak paten motor listrik yang kini mobil listrik karyanya dengan berat hati harus ia relakan dibiayai oleh Malaysia. Ya, dialah Ricky Elson.

Kisah Ricky Elson begitu menggugah hati bagi siapa saja anak muda Indonesia yang ingin karyanya mendunia. Salah satu kunci yang menjadikannya demikian adalah karena orisinalitas yang dia miliki. Bayangkan saja seandainya ia menuruti apa yang menjadi kebiasaan teman sekelasnya, mungkin tidak akan pernah ada mobil listrik seperti yang ia ciptakan. Tidak akan ada pembangkit listrik tenaga angin yang diinisiasinya di Indonesia bagian timur.

Rasanya inilah suntikan yang paling tepat untuk memompa kerendahan diri yang seringkali membelenggu kreatifitas. Kita lebih memilih arus mainstream karena kebanyakan kawan kita memilih jalan tersebut. Sementara kalaupun memilih kita khawatir jalan tersebut salah arah.

Bukankah penemu teknologi 4G LTE adalah anak muda asli Kediri yang rela berjibaku dengan derasnya komentar pedas bahwa karyanya tak ubahnya jiplakan saja. Namun ia terus berusaha dengan orisinalitas prinsipil yang dimilikinya hingga karyanya tidak hanya bermanfaat bagi Indonesia bahkan dunia.

Mahasiswa sering mengalami masalah tidak PD dengan apa yang dimiliki. Selalu ada rasa minder dengan kelebihan yang dimilikinya. Bukankah Sang Pemilik segalanya menciptakan kita ke dunia dengan sebaik-baik bentuk makhluk. Mengapa selama ini riuh rendah perkataan orang lain masih menjadi beban tersendiri ? Padahal kita sudah sangat paham bahwa bayang-bayang anggapan orang itulah yang membuat kita selalu terbelenggu dengan masa lalu dan mencemaskan masa depan.

Menjadi manusia orisinil memang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Ada jalan panjang yang tidak semua orang mau melewatinya. Batuan terjal yang menjadi ganjalan juga tak akan pernah habis menghalangi. Terbang menjadi pasukan burung yang berbaris memang terasa lebih nyaman ketimbang menjadi burung elang yang kemana-mana sendirian. Imbasnya dalam kehidupan, kita lebih memilih mendengar anggapan orang terhadap kita dibanding keputusan yang datangnya dari hati nurani sendiri. Padahal yang mempunyai kuasa atas keputusan kita adalah diri sendiri. Meminta doa restu kepada kedua orangtua dan terus bersimpuh kepadaNya adalah sumber energi yang tiada habis mengantarkan kita pada jalan terbaik.

Menjadi manusia orisinil diperlukan bersahabat dengan kesabaran. Ada sebuah puisi yang relevan perlu diperhatikan.

Aku menyadari bahwa sahabat yang paling sulit kutemukan adalah kesabaran. Berulangkali aku mencoba untuk merangkulnya tapi dia enggan membalas pelukan hangatku. Bahkan duduk berdampinganpun tak mau. Kucoba mengenalnya melalui kebiasaan sehari-hari. Lagi-lagi dia sulit didekati. Aku panggil namanya ia tak hiraukan suara nyaringku. Apa ia sudah berganti nama ? Atau ada makhluk halus yang dengan sengaja berusaha menyerupai dirinya ? Ah, memang begitu sulit ku bersahabat dengannya. Tapi aku yakin dialah sahabat yang akan menyadarkanku bahwa di setiap perjuangan pasti membutuhkan proses yang melelahkan melalui penantian yang panjang.
Sekali lagi, menjadi manusia orisinil tidak membutuhkan pengakuan. Kalaupun diakui biarkan waktu yang akan membuktikan dan semesta menjadi teman. Karena perjuangan ini akan terasa berat kalau kita hanya memikirkan apa kata orang.

Selamat menjadi diri sendiri, kreatif menghadapi kehidupan.

Jumat, 15 April 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

April 2016
S S R K J S M
« Mar   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Follow Tulisan Avissena on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: